Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sosial

Garis Depan

Gambar
Dwight D. Eisenhower, US President ke 34 pernah membuat statement yang sangat insightful,  “Orang-orang yang tidak berada di garis depan, akan dengan mudah berkata bahwa perang itu tidak mengerikan” Terkait dengan statement di atas yang sangat menarik, bahwa kita sama-sama tahu, orang-orang yang berada di garis depan pada saat pandemic adalah tenaga-tenaga kesehatan seperti: dokter, perawat. tanyalah bagaimana mereka berjibaku  menghadapi pandemic, maka akan kita dapati cerita tentang kengerian, kelelahan, keputusasaan, cacian, kematian, dan juga harapan.  Sangat tidak bijaksana bahkan bisa dibilang bodoh jika kita bertanya tentang pandemic kepada para tokoh agama, politisi, bahkan para peramu kata, karena yang akan kita dapati cerita-cerita yang tidak masuk akal, sanggahan yang tidak berdasar, setumpuk lapuk cerita konspirasi, bahkan akhirnya mengarah ke hasutan,  Para tokoh agama mungkin berada di garis depan dalam urusan memperbaiki akhlak dan ketaqwaan, walaupun ...

Once upon time in Boston, it's about Jews

Gambar
Boston seharusnya sudah cukup hangat memasuki bulan April, tapi tidak siang itu, termometer menunjukan angka 50⁰ fahrenheit atau setara 10⁰ derajat celcius, sungguh suhu yang sangat dingin buat saya orang Bekasi, daerah yang berlimpah sinar matahari, yang terbiasa mandi keringat dan meninggalkan jejak kuning pada kerah baju dan lipatan ketiak. Meeting dan training siang itu rasanya menyiksa sekali, karena melihat saya yang tampak tidak sehat, meeting conductor, Julie Feder sampai menyapa saya, " Hi zarkasyi, are you o.k", "no, I am not feeling well" jawab saya, lalu dia menyarankan saya untuk ke rumah sakit setelah meeting, sungguh leader yang full awareness dan mengesankan buat saya. Ya Julie Feder, she is global leader for finance di Clinton Foundation, divisi health initiative. She is charming jews,  menggambarkan tentang dia tidak bisa dengan gaya Ernest Hemingway yang flat, sederhana, dan membuat kita harus membayangkan serta menebak-nebak.  Julie berperawakan ...

Profesi-profesi dewa dan receh

Gambar
  Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, bisnis, dan teknologi, maka berkembang pula profesi-profesi turunanya, profesi-profesi tersebut muncul karena kebutuhan pasar yang terus tumbuh, lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatihan, bimbingan sampai ujiannya pun bermunculan. untuk mudah mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik, maka banyak orang mengejar mendapatkan gelar profesi bersertifikat tersebut.  tidak mudah untuk untuk meraih profesi yang bersertifikat dan bisa dikatakan ahli di bidangnya, pastinya melalui jalan panjang yang penuh perjuangan, hasil akhirnya bukan cuma kecakapan yang mereka dapatkan, tapi juga sedikit arogansi, dan setiap profesi mempunyai arogansi tersendiri, tapi bukan profesi secara gelar yang arogan, tapi individu yang menyandang profesi tersebut. Misalnya dokter, banyak dokter merasa sebagai orang yang paling bisa menyelamatkan nyawa manusia, maka banyak yang bilang dengan setengah nyinyir bahwa dokter itu manusia setengah dewa...

Senja di Morosi

Sejatinya kita tidak pernah mencintai orang lain, tidak ada terminologi cinta tak terbalas, atau bertepuk sebelah tangan, kita mencintai tidak sebagaimana mereka mencintai kita, karena pecinta sejati tidak mensyaratkan kata "sebagaiman a".  Kata orang bijak, manusia pada dasarnya hanya mencintai dirinya sendiri, karena apa yang dicintai akan memantulkan kebaikan buat dirinya, mencintai seperti ritual ibadah, ribuan pujian kepada tuhan, jutaan sembah sujud yang kita lakukan tidak akan pernah membuat bertambah dan berkurang keagungan Tuhan. Karena ibadah kita hanya untuk kita, seperti yang diyakini selama ini. Seperti pagi tadi, kita berangkat dengan cinta, dan senja ini kita pun pulang membawa cinta, menyebrangi sungai dengan pincara tanpa rasa takut, menuruni lembah tanpa waswas, menerobos hutan tanpa khawatir, semua karena cinta, yang mengeluarkan senyawa-senyawa keberanian, memercikan kebahagian. Karena bahagia kita yang rasakan. Morosi 1 Mei 2021 #morosi #kendari

Berkhidmat pada Prokes

  Sejak Covid melanda, kita diwajibkan memakai Masker, padahal senyum ini terlalu manis untuk tidak diperlihatkan, sedekahku dan sedekahmu berkurang. Kita mematung, membisu, walaupun berdiri dan duduk bersebelahan. Ingin menyapa tapi disergap curiga, jangan-jangan teman ini terjangkiti. Sampai vaksin sudah disuntikan kita pun bersuka cita, gembira meruah, harapan hidup meningkat. Tapi tidak serta merta kita boleh mengembara sesuka hati, masih ada protokol yang harus kita patuhi, dan sabda para bijak bestari yang mesti kita imani. Perintah siiru fil ardh menjadi usang, atau memang kita harus sedikit mengurangi. Hari ini kita berkhidmat pada science, pada prokes, tunduk, walaupun tidak dalam bentuk sujud. "itu haram" kata para orang suci yang seluruh hidupnya dihantui kecemasan dan kekhawatiran. Lalu kapan kita berkehendak, tunggu saja dengan sabar, pasti ada waktunya. yakini saja. Apa yang kita ciptakan, maka kita pula yang bisa mengendalikan.  Have a good Sunday

Masjid sebagai persembahan atau tempat menyembah ?

Gambar
Selain Wakatobi yang sudah menarik turis mancanegara berkunjung dan berlibur, Sulawesi Tenggara juga punya obyek wisata yang tidak kalah menarik; yaitu Masjid Alam Kendari; atau orang lebih mengenalnya sebagai Masjid terapung . Walaupun tidak setenar Wakatobi, setidaknya masjid terapung cukup dikenal dan banyak dikunjungi oleh turis lokal seperti: warga Kendari dan sekitarnya, dan  juga warga luar provinsi Sulawesi Tenggara, itupun bagi yang punya kendaraan, mengingat letaknya yang jauh dari pemukiman, bagi warga luar provinsi Sultra, bisa mengunjungi masjid terapung juga karena perjalanan dinas. Seperti saya tentunya.  Dari informasi yang saya gali, masjid terapung Kendari mulai dibangun pada tahun 2010, tepatnya saat masa kepemimpinan gubernur Nur Alam,  selesai dibangun pada tahun 2018, menghabiskan dana sebesar 200 milyar rupiah.  Masjid ini luas bangunanya 12,692 M² dan halaman parkirnya 2 kali dari luas bangunanya. Konon masjid ini mampu menampung 10,000 jamaah...

Menikah muda, atau meniti karir dulu ?

" Menentukan kapan waktu yang tepat untuk menikah adalah strategi hidup", begitulah jawaban saya ketika salah seorang junior bertanya kepada saya "kenapa dulu memutuskan menikah muda ?".  saya menikah menjelang umur 27, sebetulnya tidak muda-muda bangat, apalagi telat, ga mungkin lah, kecuali umur 40, itu sih bukan telat, tapi menunda menikah.  jika kita percaya sejarah bahwa,  dulu Nabi menikah umur 25 dan diyakini sebagai umur yang ideal atau pas untuk menikah, maka setidaknya saya mengikuti sunnah nabi, agak telat sedikit sih, tapi setidaknya syarat minimal terhindar dari narasi falaisa minni terpenuhi, walaupun ketika mau memutuskan menghalalkan anak gadis orang sempat ragu. Sebelum menikah saya punya cita-cita tinggi, walaupun tidak setinggi langit; menjadi manajer dulu sebagai pencapaian tertinggi karir, punya pengalaman meeting dan training ke luar negeri gratis, punya rumah sederhana walaupun harus kredit via BTN, punya kendaraan, tidak muluk-muluk, cukup ho...

Kerumunan Hologram

  Kucari dikau di gunung, yang kudapati hanya pendaki yang meninggalkan jejak berserakan Kucari dikau di hutan, yang kutemui hanya sawit-sawit yang menjanjikan Kucari dikau di laut, yang kulihat hanya sampah-sampah bekas bungkus makan kita yang katanya higienis agar sehat untuk dimakan, bekas masker kita agar terhindar dari si-laknat virus,  Kini… Kudapati engkau di antara kerumunan hologram, mengembara di belantara awan beratapkan langit yang sama, kita saling terhubung dengan partikel Tuhan, katanya Kita bertemu tapi tak sempat saling menatap, mengumbar tawa sekaligus tangis, menceritakan bahagia begitu juga sedih, menghamparkan optimis dengan bayang pesimis, gelisah Karena kita hanya sekumpulan hologram, tak perlu mengenang fiksi yang sebentar lagi hilang, atau terlupakan. tribute to great women I have ever meet

Peramal-peramal Digital

Dulu para Raja begitu percaya dengan peramal, bahkan saking percayanya dengan Peramal, dan demi mempertahankan kekuasaanya Firaun sampai tega memerintahkan para tentaranya untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil .  Agama-agama langit melarang kita untuk mempercayai peramal, bahkan bisa dikategorikan syirik (Menyekutukan Tuhan), dosa yang tak terampuni dengan ganjaran Neraka, karena jikapun benar ramalan para peramal, itu dianggap sebagai kebetulan belaka, lalu bagaimana dengan peramal-peramal digital abad 21, apakah mereka dianggap sebagai para penista-penista agama, dan kita yang percaya dianggap para pendosa.  Jika percaya dengan Peramal dianggap dosa, tidak bisa dibayangkan begitu banyak pendosa di Jakarta dan sekitarnya, setiap pagi ribuan orang menggantungkan perjalanannya kepada Madam Waze dan Om Google, ketika Madam waze bilang kepada orang-orang Bekasi untuk hindari jalan tol, dan ambil jalan alternatif Kalimalang atau BKT untuk menuju Jakarta, maka ramai-ra...

si Tamak lebih mulia daripada si Saleh

Gambar
  Lihatlah sejarah mencatat bahwa, kelaparan tidak diatasi oleh gemuruhnya doa orang-orang Saleh di rumah-rumah ibadah, kemiskinan tidak di-entaskan dengan khotbah-khotbah para peramu kata, tidak ada catatan endemik dan epidemik hilang dengan caci maki yang kalian rajamkan kepada si laknat kapitalis. Si Laknat pengumpul pasti tidak akan menjalankan mesin-mesin pencetak uangnya sendiri, karena keterbatasannya dia mempekerjakan orang-orang qualified dibidangnya, tentu dengan imbal upah, ada berkah yang mengalir dari ketamakan mereka.  Ketika entitas imajiner (Negara) lumpuh dalam mengatasi wabah malaria, cacar, ebola, HIV, para kapitalis datang bak superhero mengkapitalisasi ketamakannya, riset medis didanai, produksi ditingkatkan, distribusi disebarluaskan, dan keuntungannya pun dilipatgandakan, maka hitunglah, berapa banyak nyawa yang terselamatkan oleh ketamakan, dan selanjutnya selalu ada limpahan kue yang mengalir dan dinikmati oleh para jelata.  Sepanjang proses riset...