si Tamak lebih mulia daripada si Saleh


 

Lihatlah sejarah mencatat bahwa, kelaparan tidak diatasi oleh gemuruhnya doa orang-orang Saleh di rumah-rumah ibadah, kemiskinan tidak di-entaskan dengan khotbah-khotbah para peramu kata, tidak ada catatan endemik dan epidemik hilang dengan caci maki yang kalian rajamkan kepada si laknat kapitalis.

Si Laknat pengumpul pasti tidak akan menjalankan mesin-mesin pencetak uangnya sendiri, karena keterbatasannya dia mempekerjakan orang-orang qualified dibidangnya, tentu dengan imbal upah, ada berkah yang mengalir dari ketamakan mereka. 

Ketika entitas imajiner (Negara) lumpuh dalam mengatasi wabah malaria, cacar, ebola, HIV, para kapitalis datang bak superhero mengkapitalisasi ketamakannya, riset medis didanai, produksi ditingkatkan, distribusi disebarluaskan, dan keuntungannya pun dilipatgandakan, maka hitunglah, berapa banyak nyawa yang terselamatkan oleh ketamakan, dan selanjutnya selalu ada limpahan kue yang mengalir dan dinikmati oleh para jelata. 

Sepanjang proses riset, produksi, dan distribusi belum terotomatisasi, maka para laknat sudah menjadi bagian problem solver buat negara, dengan terserapnya begitu banyak tenaga kerja, maka fungsi-fungsi Negara sudah dialihdayakan oleh si Tamak. 

Entitas mana yang sanggup menciptakan jaring pengaman sosial sendiri, tanpa keberadaan orang-orang tamak, ketersediaan beras, roti, minyak, daging, sayur mayur digerakan oleh ghirah ketamakan.

Ternyata, kerja dan hasrat nyata si Tamak lebih mulia daripada umpatan orang-orang Saleh di setiap Doanya, jika si Tamak selalu ingin melipatgandakan kekayaan, bukankah kalian juga selalu berharap pahala yang berlipat ganda dengan ibadah yang minimal.


Salam
Zarkasyi Husin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk