Postingan

(Aku) tak mau berbagi cermin

Gambar
Hari ini saya membaca tulisan menarik tentang puisi-puisi Chairil Anwar. Kata penulis, puisinya terlalu individualistik dengan ke-Akua-anya sebagai laki-laki, Sarat dengan Maskulinitas. Saya pribadi tertarik membahasnya dalam lingkup bias gender.  Aku (sebagai laki-laki) pemegang kekuasaan, Otoritatif atas semua hal, dan memandang Wanita hanya sebatas objek, dipandangi, diperebutkan bak trofi, diminta melahirkan banyak anak.  ketika Wanita ingin menjadi subjek maka mereka harus menjadi seperti laki-laki atau menggantikan fungsi subyektif laki-laki itu sendiri. Tidak jarang ketika melihat seorang Ibu-ibu yang mampu membesarkan, merawat, membiayai, menyekolahkan, sampai berhasil maka komentar yang kita sering dengar adalah “ibu itu seperti kepala rumah tangga”, bukan penilaian yang jujur bahwa dia memang sejatinya adalah Kepala rumah tangga ketika menggantikan fungsi laki-laki. Pengakuan jujur seperti membentur tembok tebal yang diimani bahwa “Laki-laki adalah pemimpin para wani...

Break with KitKat

Gambar
Oleh-oleh KitKat dari Jepang hari ini bikin flashback ke kejadian yang belum lama terjadi. 12 tons KitKat dicuri dalam perjalanan dari pabrik di italia ke Polandia. Buat tenaga Marketing yang kreatif musibah pun bisa dibikin jadi iklan promosi gratis. salah satu beritanya dibuat seperti di bawah ini “Kami menghargai selera tinggi para pencuri, tapi kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi dalam pengiriman” Ada juga narasi yang seperti ini “Kami selalu ajak orang untuk istirahat (break) sejenak dengan KitKat, tapi para pencuri salah mengartikan kata terlalu harfiah (break=membobol) 12 tons coklat kami. Para perusahaan lain pun tidak mau ketinggalan, mereka menyampaikan rasa empati dan simpatinya terhadap musibah yang dialami KitKat dengan narasi yang kreatif. Dominos Pizza misalnya, mereka menyampaikan berita simpati seperti di bawah ini: “Kami turut berduka cita atas musibah yang terjadi pada KitKat Sebagai informasi tambahan yang sama sekali tidak terkait, kami dengan senang hati...

Belajar dari Bu Susi

Gambar
  Ketika kamu bukan (atau belum)  siapa-siapa, maka orang di sekelilingmu meremehkanmu, menganggapmu rendah, atau tak layak didekati, apalagi dijadikan target calon suami atau istri. Tapi ketika kamu "punya nama" atau "jadi orang" maka semua pandangan tertuju padamu Kamu bak magnet: Semua pengen dekat denganmu,  Semua pengen dapat perhatianmu, Semua sok kenal sok dekat (SKSD) denganmu So....dunia berputar kawan Jangan remehin siapapun Jangan rendahin satu orangpun Karena bisa jadi orang yang kamu pandang sebelah mata hari ini, kelak kamu akan kejar-kejar Bisa jadi juga, jika cewek atau cowok yang dulu menolak mu melihatmu yang sekarang, mungkin mereka akan bersyukur, karena kamu bukan Bu Susi. Demikian friday Joke pagi ini.  Keep smiling, keep shining,  Knowing you can always count on me for joke, That's what friends are for

Lebih dari selamanya

“Kamu akan menikah lagi tidak kalau aku mati duluan?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Rifa, ringan seperti buih, dibungkus nada setengah bercanda yang seharusnya tak perlu diambil hati. Namun, di ruang tamu yang hangat itu, Salim menjawabnya dengan ketegasan yang melampaui logika. “Tidak lah,” tukasnya, disusul gumaman kecil, “Ngomong apa sih kamu.” Bagi Salim, kalimat itu bukan sekadar obrolan pengantar tidur. Ia adalah segel. Dalam film Lebih dari Selamanya, Donny Alamsyah (Salim) dan Shareefa Daanish (Rifa) tidak sekadar beradu peran; mereka memotret sebuah arsitektur rumah tangga yang ideal namun rapuh di hadapan takdir.  Salim adalah prototipe ayah yang tangguh, sementara Rifa adalah tiang penyangga yang tetap kokoh saat fondasi ekonomi dan psikologi suaminya mulai retak.  Mereka adalah dua kutub yang saling mengunci dalam janji: mencintai sampai maut, dan bertemu kembali di surga. Namun, hidup punya selera humor yang getir. Gelembung Kenangan yang Menyesak...

Anak Punk

Gambar
Seorang anak muda punk masuk cafe dan memesan kopi. Dia duduk di pojok dekat bar counter, beberapa pengunjung cafe memperhatikan potongan rambut Mohawknya yang unik berwarna-warni. Beberapa pengunjung lainya ikut menoleh sebentar, lalu kembali focus ngobrol kembali dengan temanya, kecuali satu orang tua yang duduk tidak jauh dari anak punk tersebut. Orang tua itu terus memperhatikan anak punk tersebut, sesekali dia manggut-manggut sambil menahan senyum yang hampir meledak menjadi ketawa. Merasa risih terus diperhatikan, anak punk tersebut menghampiri bapak tua dan bertanya. “Bapak tua, kenapa kau terus memperhatikan aku, ada yang aneh kah pada diri saya” “Aah tidak anak muda, cuma terlintas dalam pikiran jangan-jangan kamu anak saya” jawab bapak tua. “Bagaimana bisa, bapak tua” tanya anak punk tersebut dengan penasaran “Waktu muda aku juga anak punk, aku lebih nakal dan slebor dari kamu, pernah satu malam saking mabuknya, aku sampai memperkosa seekor burung merak”.

#berduasaja #menuabersama

Gambar
Apa yang anda lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu ? Sebagian dari kita mungkin mengisinya dengan bersih-bersih rumah, olahraga, kondangan, arisan keluarga, atau sibuk dengan buka-buka media sosial dan WA. Yang terakhir hampir semua orang yang punya gawai melakukannya, termasuk saya. Buat saya orang kantoran dan gajian yang sibuk dari Senin-Jumat, hari Sabtu dan Minggu adalah golden day, hari-hari dimana rasanya rugi kalau saya tidak lewati dengan kegiatan bersama istri, gowes misalnya, olahraga yang kata teman saya lebih banyak sisi cuci matanya, saya mengkonfirmasi “ya”, Walaupun tidak sepenuhnya benar. Melihat pemandangan hijau, melirik yang masih kinyis-kinyis adalah salah duanya, efeknya, saya nampak lebih muda dari bapak saya, dan sedikit lebih tua dari adik saya.  Healing jalan-jalan keluar kota adalah salah satu kegiatan yang juga kami suka lakukan di akhir pekan, misalnya hari ini. Kami on the Way to Jogja, rencananya Minggu pagi akan gowes bersama keliling kota dan Kerato...

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Gambar
Dalam kegelapan nurani yang paling pekat, di sanalah Dexter bersemayam. Bukan sekadar kisah tentang pembunuh berantai, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang sisi esoterik kemanusiaan—tentang bisikan-bisikan primordial yang mendiami setiap sudut jiwa, naluri binatang yang senantiasa mengintai, haus akan pembalasan, dahaga akan keadilan yang berlumur darah. Dexter Morgan bukanlah psikopat biasa. Ia adalah anomali, sebuah paradoks berjalan yang mengadopsi kode etik personalnya sendiri, sebuah sistem moralitas yang terukir di atas pilar-pilar kejahatan dan pembalasan. Ia adalah arsitek keadilan versi jalanan, eksekutor bagi mereka yang luput dari jerat hukum. Dari pemuka agama yang merenggut kesucian, pengedar narkotika yang menghancurkan kehidupan, pedofil yang merenggut masa depan, hingga politikus busuk yang mengkhianati amanah—semua adalah mangsa bagi "Dark Passenger"-nya.  Dexter adalah bayangan cermin dari hasrat tersembunyi kita, representasi dari keinginan untuk me...