Once upon time in Boston, it's about Jews
Boston seharusnya sudah cukup hangat memasuki bulan April, tapi tidak siang itu, termometer menunjukan angka 50⁰ fahrenheit atau setara 10⁰ derajat celcius, sungguh suhu yang sangat dingin buat saya orang Bekasi, daerah yang berlimpah sinar matahari, yang terbiasa mandi keringat dan meninggalkan jejak kuning pada kerah baju dan lipatan ketiak. Meeting dan training siang itu rasanya menyiksa sekali, karena melihat saya yang tampak tidak sehat, meeting conductor, Julie Feder sampai menyapa saya, "Hi zarkasyi, are you o.k", "no, I am not feeling well" jawab saya, lalu dia menyarankan saya untuk ke rumah sakit setelah meeting, sungguh leader yang full awareness dan mengesankan buat saya.
Ya Julie Feder, she is global leader for finance di Clinton Foundation, divisi health initiative. She is charming jews, menggambarkan tentang dia tidak bisa dengan gaya Ernest Hemingway yang flat, sederhana, dan membuat kita harus membayangkan serta menebak-nebak. Julie berperawakan tinggi, tidak kurus seperti photo model, dan tidak gemuk seperti ibu-ibu komplek perumahan yang malas diet. bentuk rahang pipi, hidung, dan dagunya Julie sungguh proporsional, senyum manis yang tersungging di bibir tipisnya sangat menawan, lengkap dengan rambutnya yang pirang dan curly dia lebih nampak seperti Hollywood star yaitu Julia Robert, setiap pria yang menatapnya seperti membayangkan menjadi Edward Lewis dalam film pretty woman. Gambaran pamungkasnya adalah: Julie Feder bak magnet yang terjebak di setiap kriptokrom para pemuja keindahan.
Pada hari ke 3, asisten Julie ujug-ujug menemui saya, dan memberitahu bahwa Julie ingin ngobrol dengan saya di ruangan nya. Kaget campur penasaran memicu adrenalin mengalir deras bersama darah menciptakan irama jantung yang tidak harmonis dan juga sederet tanya.
"Have a seat, please" begitulah Julie mempersilahkan saya duduk, courtesy nya tidak hilang, tidak berusaha to look down lawan bicaranya, walaupun secara jabatan jauh dibawah dia.
"O.K, apa yang bisa saya bantu, dan apa yang menjadi ide kamu untuk memperbaiki sistem di Jakarta office" tanya Julie dengan serius sambil merapikan beberapa working papers yang berceceran di mejanya.
Julie tahu betul masalah klise yang dihadapi I-NGO atau Foundation-foundation yang bergerak di bidang kemanusiaan, dari cash advance (kas bon) project/program yang bertumpuk menggulung, dan tak kunjung ada laporan, penyerapan dana program yang tidak sesuai timetable, sistem budgeting yang berantakan, sampai kepada laporan keuangan yang tidak mengikuti standar laporan keuangan lembaga nirlaba. Diskusi menarik itu mengerucut pada resolusi improvement yang harus diimplementasikan nanti.
Saya masih terpaku di meja diskusi sambil memandangi Julie, sungguh perempuan Yahudi yang mengesankan dengan segala kepintaranya, gumam saya. tapi buat saya, yang lebih mengesankan lagi adalah ketika dia cerita bahwa sudah lama puasa dari media. media buat dia tidak lebih dari sekedar tempat berita-berita kecelakaan dan pembunuhan yang mengerikan, isu politik yang menjijikan, artikel sampah yang berserakan, tempat dimana orang-orang sok pintar dan suci mempesonakan diri dengan kemunafikan, orang-orang beragama yang gemar teriak perang dengan mengucap nama Tuhan. Saya terpukau mendengar ceritanya, lalu terlempar jauh ke masa silam, masa dimana ketika orang-orang tua di kampung kadang bercerita tentang orang-orang Yahudi yang jahat, culas, tak bermoral dan kejam. Guru-guru pun tak pernah bosan bercerita tentang theory konspirasi para Yahudi, kami dijejali dengan cerita-cerita yang berulang-ulang, cerita yang lebih banyak tidak masuk akalnya buat sedikit kami yang mencoba menelaah dengan otak, bukan dengan rasa takzim yang basi. Saya ingat betul bagaimana mereka bercerita bahwa ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, bahkan media sudah dikuasai Yahudi, mereka menanamkan ketakutan dan mental inferior pada kami, sehingga membuat kami pasrah dan tenggelam dalam hujatan yang berbalut doa, sementara para Yahudi itu terus belajar, bekerja dan berkreasi. Wajar kalau sekarang mereka sudah di bulan, sementara kami masih di atas sajadah, merajah jiwa dengan keluh kesah. "O.k, we're done" seru Julie membuyarkan lamunan, dan menarik saya kembali ke dunia nyata, lalu bergegas keluar, masih sempat saya dengar dia mengucapkan "have a good day, Zack" ketika pintu hampir tertutup.
Hari ke 4, setelah makan siang, saya iseng cari ruangan kosong untuk sholat dzuhur, lelah rasanya didera rasa bersalah setelah tiga hari menggabung sholat dzuhur, ashar dan magrib di hotel, maka hari itu saya memberanikan diri mencari ruang untuk sholat, "hi, sedang cari apa" tanya Michael #*@#!*, "saya sedang cari ruangan kosong untuk sholat" jawab saya. susah menyebut nama belakang Michael yang sangat Yahudi, yaa sebut saja Michael yang tidak mau dipanggil mawar, dia punya jabatan Global Director for Audit, entah kenapa selalu ada kata global di setiap jabatan petinggi disini, mungkin agar berkesan mendunia, atau menguasai. Tapi yang menarik adalah Michael pernah 15 tahun di Israel. "Are you Moslem" tanya Michael tanpa penuh selidik, dan saya menjawab "yes" dengan sedikit ragu, khawatir, jika dia tiba-tiba mencaci saya karena muslim, dan ternyata tidak. Lalu dia mengajak saya mencari ruangan kosong. "nah disini saja, ruangan ini pasti bersih, dan bisa buat sholat" Michael ternyata tahu bahwa sholat itu harus di tempat yang bersih, saya jadi teringat cerita-cerita Mahasiswa Monash university, bahwa Monash University sampai harus memfasilitasi toilet khusus buat mahasiswa muslim dan yahudi karena terbiasa bersih sebelum beribadah. Mungkin benar kata Mun'im Siri bahwa Islam lahir dari rahim Yahudi, maka cukup banyak kebiasaan yahudi yang diadopsi. Kita kenal halal untuk standar makanan yang boleh dimakan Muslim, Yahudi punya standard kosher yang katanya setingkat di atas halal, kosher sudah tentu halal, dan halal belum tentu kosher, karena kosher mensyaratkan standar-standar kesehatan yang ketat.
Ternyata Michael menunggu saya sampai selesai sholat, dia memberikan saya obat pereda rasa sakit, dia tahu saya kena arthritis gout dan tanya apa penyebabnya, "mungkin karena tiap pagi sarapan begal, dan makan siangnya menyantap burrito" jawab saya bercanda dan bikin dia ketawa lepas.
Di Boston saya menemukan orang-orang humanis, beberapa Yahudi yang baik dan ramah, menghapus memori cerita-cerita orang suci yang dicomot dari kitab suci yang irelevan. Mungkin benar kata penulis muda: Rasa kemanusiaan lebih tua dari pemahaman Agama manapun.
Salam
Zarkasyi Husin
Catatan:
I-NGO: international non government organisation
Begal: sarapannya orang Amerika, seperti donat tapi lebih padat.
Burrito: Makanan khas Meksiko, daging dibungkus tortilla

Komentar