Masjid sebagai persembahan atau tempat menyembah ?
Selain Wakatobi yang sudah menarik turis mancanegara berkunjung dan berlibur, Sulawesi Tenggara juga punya obyek wisata yang tidak kalah menarik; yaitu Masjid Alam Kendari; atau orang lebih mengenalnya sebagai Masjid terapung. Walaupun tidak setenar Wakatobi, setidaknya masjid terapung cukup dikenal dan banyak dikunjungi oleh turis lokal seperti: warga Kendari dan sekitarnya, dan juga warga luar provinsi Sulawesi Tenggara, itupun bagi yang punya kendaraan, mengingat letaknya yang jauh dari pemukiman, bagi warga luar provinsi Sultra, bisa mengunjungi masjid terapung juga karena perjalanan dinas. Seperti saya tentunya.
Dari informasi yang saya gali, masjid terapung Kendari mulai dibangun pada tahun 2010, tepatnya saat masa kepemimpinan gubernur Nur Alam, selesai dibangun pada tahun 2018, menghabiskan dana sebesar 200 milyar rupiah. Masjid ini luas bangunanya 12,692 M² dan halaman parkirnya 2 kali dari luas bangunanya. Konon masjid ini mampu menampung 10,000 jamaah, walaupun entah kapan akan ada jamaah sebanyak itu, karena pada waktu saya menyempatkan sholat dan photo-photo disana, saya hanya melihat beberapa orang saja yang sedang sholat dan tiduran di dalam, sementara diluar segelintir orang sedang mengabadikan posenya dengan latar belakang masjid.
Trend membangun rumah ibadah spektakuler seperti masjid, dan rumah ibadah lainya bukan cuma terjadi di satu kota seperti Kendari, karena beberapa kota Provinsi di Indonesia juga terjadi hal yang sama. Misalnya Samarinda yang infrastruktur kotanya substandar tapi hebatnya punya Islamic center super megah dan luas, di dalamnya juga ada masjid yang tidak kalah artistiknya dengan masjid terapung Kendari. Waktu ke Samarinda, dan atas perjalanan dinas, saya sempat mampir ke Islamic center tersebut, tapi herannya saya tidak mendapati hiruk pikuk, tempat dimana islamic center yang selalu digadang-gadang menjadi pusat kajian memajukan peradaban islam, seperti yang selalu dinarasikan penuh romantisme oleh para inisiatornya, yang saya jumpai adalah cuma kesunyian yang dibekap takut, dicekam pandemic.
Seperti tidak mau kalah dalam perlombaan, di bawah kepemimpinan Ahmad Heryawan, Jawa Barat pun merencanakan membangun masjid super mewah dan megah terapung di Gedebage, Bandung. Menurut informasi yang sudah tersebar di berbagai media, pembangunan masjid yang dimulai pada tahun 2017; dan katanya mampu menampung 30,000 jamaah; akan menghabiskan dana sebesar 1 triliun rupiah. Sungguh angka yang fantastis, dan perlu intropeksi mengingat angka kemiskinan di Jawa Barat masih cukup tinggi. Pertanyaanya apakah perlu menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sekedar memuaskan aktualisasi bermegah diri secara kolektif, yaitu desain bangunan modern nan kokoh, dan memantaskan provinsi sebagai yang paling islami juga penduduknya paling religius, sementara fungsi masjid tidak cukup efektif dan memberi dampak rahmatan lil alamin.
Terkait semangat berlomba membangun rumah ibadah di Indonesia, kita tahu bahwa pada abad pertengahan hingga akhir, Eropa juga pernah menggandrungi membangun gereja-gereja super megah sebagai pembuktian kecintaan pada seni arsitektur indah, teknik konstruksi yang unik dan kokoh, dan juga didasari semangat religiusitas yang meluap-luap. Gereja-gereja tersebut pada awalnya diperuntukan buat jemaat agar bisa beribadah dengan khusuk, dan pada waktu tertentu digunakan juga untuk tempat pentahbisan raja dan ratu, sampai pada akhirnya gereja-gereja tersebut menjadi objek wisata, museum, dan lengang dari kegiatan ibadah.
Lalu apakah di masa depan masjid-masjid super megah di Indonesia akan bernasib sama dengan gereja-gereja Eropah, ataukah memang masjid hanya sebagai persembahan agar Tuhan senang, dan tidak lagi menjadi tempat menyembah ? Wallahu a'lam.
Salam,
Zarkasyi Husin

Komentar