Menikah muda, atau meniti karir dulu ?

"Menentukan kapan waktu yang tepat untuk menikah adalah strategi hidup", begitulah jawaban saya ketika salah seorang junior bertanya kepada saya "kenapa dulu memutuskan menikah muda ?". 


saya menikah menjelang umur 27, sebetulnya tidak muda-muda bangat, apalagi telat, ga mungkin lah, kecuali umur 40, itu sih bukan telat, tapi menunda menikah. 


jika kita percaya sejarah bahwa,  dulu Nabi menikah umur 25 dan diyakini sebagai umur yang ideal atau pas untuk menikah, maka setidaknya saya mengikuti sunnah nabi, agak telat sedikit sih, tapi setidaknya syarat minimal terhindar dari narasi falaisa minni terpenuhi, walaupun ketika mau memutuskan menghalalkan anak gadis orang sempat ragu.


Sebelum menikah saya punya cita-cita tinggi, walaupun tidak setinggi langit; menjadi manajer dulu sebagai pencapaian tertinggi karir, punya pengalaman meeting dan training ke luar negeri gratis, punya rumah sederhana walaupun harus kredit via BTN, punya kendaraan, tidak muluk-muluk, cukup honda astrea yang katanya super irit konsumsi bensin nya. tapi setelah saya pikir-pikir proses mewujudkan cita-cita saya dan menuju kesana cukup panjang, karena untuk karir saja, jenjang di tempat saya bekerja cukup panjang, dan rasanya tidak mungkin saya melompat dari cuma seorang senior staf menjadi Manager, wong di atas senior staff masih ada Supervisor, dan Asmen (asisten manager), jika karir saja rasanya tidak mungkin apalagi memiliki assets/materi seperti rumah dan kendaraan, karena sadar hanya punya gaji UMP (upah minimum pribadi), jadi habis buat keperluan pribadi saja. 


Setelah berdiskusi dengan orang tua, saudara, dan juga teman, maka saya memutuskan untuk menikah, dengan keyakinan, jika kita tidak bisa mendapatkan dua-duanya (keluarga atau karir), maka harus mendapatkan salah satunya, memutuskan menikah pun bukan tanpa strategi, setidaknya yang paling dekat dan paling gampang memutuskannya adalah perkara dimana kita sebagai decision maker nya. Dengan kondisi "jika saya menikah, dan belum jadi manager,  maka setidaknya saya sudah punya istri, anak, dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang diyakini orang beragama sebagai perbuatan dosa.


Bagaimana jika saya mengejar karir dan ternyata tidak tercapai, tentu ada tiga kerugian yang saya dapat: tidak jadi manager, tidak punya anak-istri, dan umur yang berlalu sia-sia.


Kata orang bijak, setiap keputusan yang kita ambil dan diyakini benar, maka selalu ada hikmah dan keberkahan yang menyertainya, maka semesta pun berpihak, setelah saya menikah, dan anak berumur 1 tahun, tiba-tiba ada perusahaan yang baru didirikan dan menawari posisi manajer kepada saya. Mungkin itu rezeki anak soleh, walaupun saya tidak soleh-soleh bangat


Buat yang merasa soleh dan soleha, juga cukup umur, siap lahir batin, segeralah menikah, jika tidak sukses dalam karir dan materi setelah menikah, setidaknya anda diakui Nabi sebagai Umatnya.  ☺


Salam,

Zarkasyi Husin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk