Profesi-profesi dewa dan receh


 

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, bisnis, dan teknologi, maka berkembang pula profesi-profesi turunanya, profesi-profesi tersebut muncul karena kebutuhan pasar yang terus tumbuh, lembaga-lembaga yang menyelenggarakan pelatihan, bimbingan sampai ujiannya pun bermunculan. untuk mudah mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik, maka banyak orang mengejar mendapatkan gelar profesi bersertifikat tersebut.  tidak mudah untuk untuk meraih profesi yang bersertifikat dan bisa dikatakan ahli di bidangnya, pastinya melalui jalan panjang yang penuh perjuangan, hasil akhirnya bukan cuma kecakapan yang mereka dapatkan, tapi juga sedikit arogansi, dan setiap profesi mempunyai arogansi tersendiri, tapi bukan profesi secara gelar yang arogan, tapi individu yang menyandang profesi tersebut.


Misalnya dokter, banyak dokter merasa sebagai orang yang paling bisa menyelamatkan nyawa manusia, maka banyak yang bilang dengan setengah nyinyir bahwa dokter itu manusia setengah dewa, mungkin sejenis Hercules dalam mitologi Yunani, dalam mitologi debt collector bisa jadi berubah menjadi Manusia setengah nekat. Profesi dokter ini cukup solid dan militan, waktu banyak kasus kriminalisasi dokter di Indonesia, maka ramai-ramailah mereka demo turun ke jalan. dari dulu sampai sekarang profesi dokter menjadi cita-cita nomor satu anak-anak Indonesia, bisa jadi cita-cita skala dunia, walaupun sekarang sedikit terancam digeser dengan cita-cita menjadi youtuber. Searogan dan komersial apapun profesi dokter saya tetap yakin masih banyak dokter yang berhati mulia, walaupun tidak sedikit juga yang mengejar logam mulia. 


Selanjutnya profesi Pengacara, profesi ini tidak kalah bergengsinya dengan profesi dokter. Banyak orang bercita-cita luhur ingin menjadi pengacara agar bisa membela kaum lemah, walaupun lebih banyak lagi yang ingin memiliki mobil mewah dan harta berlimpah, memakai jas mahal lengkap dengan dasinya di daerah tropis seperti bukan masalah buat mereka.  pekerjaannya membela, membela siapa saja yang memberi upah dengan mendayagunakan asas praduga tak bersalah, yang penting menang, yang penting senang karena bertabur uang. Kalau ngomongin aturan, apalagi KUHP maka orang-orang dengan profesi tersebut sangat mendominasi, dan merasa paling tahu soal hukum, wajar juga sih, wong mereka sekolahnya sekolah hukum, yang tidak wajar adalah memanfaatkan ketidaktahuan kliennya soal hukum.  


Auditor, mungkin ini profesi yang paling sering suudzon, curiga terus bawaanya, dalam kajian keagamaan mungkin orang-orang dengan profesi auditor paling banyak dosanya dan neraka ancamannya. Sedikit melihat ada yang tidak beres pengen periksa terus bawaanya, mengoleksi temuan, pengen test check terus, mengkonfirmasi, lalu menggelar temuanya ke pemakai jasa, menyajikan laporan keuangan yang kadang-kadang tidak wajar, sekalipun wajar tapi dengan pengecualian, dan yang lebih banyak wajar tanpa pengecualian. 


Ustadz, sebetulnya ini bukan profesi, karena sampai sekarang belum ada badan sertifikasi ustadz Indonesia yang secara legal menyelenggarakan ujian dan mengeluarkan sertifikasi kecakapan sebagai ustadz. Ustadz kok disertifikasi, tabu kalau kata orang yang tidak setuju, kalau ditawari uang sertifikasi boleh. Karena sudah kadung dianggap sebagai profesi yang menjanjikan, maka profesi ini cukup meruah, bahkan cenderung melimpah  (over supply) di Indonesia. Walaupun profesi ustadz berkonsentrasi pada bidang keagamaan & kerohanian, tapi ironisnya profesi ini tidak steril dari arogansi, jangan sekali-kali anda menghina ustad, kalau tidak mau beresiko dianggap menistakan, jangan ngomong sok tahu soal agama, kalau tidak mau dicap sebagai santrinya syekh Gugel, atau jamaah majlis taklim Al-Yutubiyah. Kalau baru belajar agama jangan akting-akting jadi ustad, resikonya anda akan ditanyai; nyantri dimana, ngerti nahwu sharaf tidak; bisa baca kitab kuning tidak; atau paling horor ketika ente ditanyain punya gelar LC MA tidak. saya punya pengalaman pribadi yang kedengaranya absurd, ada satu majlis taklim yang hanya mau menerima guru/ustadz yang bergelar LC dan bisa baca kitab kuning. saya pribadi tidak heran, ada proses branding selama ini, sehingga terkesan kecakapan membaca kitab kuning menjadi eksklusif dan monopoli pemilik gelar-gelar tertentu. atau memang selama ini terjemahan kitab-kitab klasik tidak masif dan optimal agar selalu ada ceruk pasar buat para ahli, mempresentasikanya puluhan tahun tanpa ada perubahan berarti, pengajian dikemas dalam satu arah, cukup mendengarkan dan menelan mentah-mentah apa yang disampaikan.


Profesi-profesi di atas bukan cuma menggambarkan manfaat dan arogansinya tapi juga phenomena lintas batas keilmuan, syah-syah saja jika seorang dokter merasa atau arogan sekalipun bahwa dia yang paling mengerti soal kesehatan, tapi lucunya ada juga dokter yang merasa lebih mengerti soal keuangan sehingga menganggap receh profesi yang lain. boleh-boleh saja seorang pengacara merasa paling mengerti hukum dibanding seorang auditor misalnya, tapi jangan sampai sebaliknya. dihalalkan dan dimafhumkan jika seorang ustadz menganggap dirinya yang paling mengerti ilmu agama, tapi sangat disayangkan banyak juga dari mereka yang merasa ahli berbagai pengetahuan, seperti politik, ekonomi, kedokteran dan sebagainya, dan hal tersebut tentu saja mengacaukan. 


Saya terpesona ketika seorang teman dokter berbicara bahwa, “semua profesi itu penting dan bermanfaat, kita tidak lebih penting dan bermanfaat dari orang lain ketika tidak mampu mengerjakan apa yang orang lain bisa kerjakan” kita disatukan karena ketidaksempurnaan kita, terbangun dalam sistem jaringan yang saling menguatkan, bukan saling meremehkan, dan tidak menganggap recehan profesi orang lain.



Salam,

Zarkasyi Husin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk