Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2021

Berbahagialah yang pernah memilih

Gambar
  Tidak seperti biasanya, salah satu WA group para profesional yang saya ikuti yaitu, ICMA ( Institute Management Accountant Australia ) semalam salah satu anggotanya membagikan artikel yang cukup menarik untuk dibaca, agak sensitif, tapi mampu memancing para anggotanya untuk saling komen, dan menghasilkan diskusi yang sehat, walaupun keluar dari pakem. Diskusi semalam adalah tentang Warisan , tidak dikaji atau didiskusikan dalam perspektif Accounting atau Finance seperti biasanya kami lakukan, tapi ini tentang Agama Warisan , tentang kita yang tidak pernah bertanya kenapa kita beragama Islam, Katolik, Protestan, Budha atau Hindu , karena jawabanya sudah kita ketahui bahwa, leluhur, kakek nenek, bapak ibu kita beragama yang kita yakini sekarang, maka otomatis kita pun sama dengan mereka. Bisa jadi kita yang sekarang adalah seorang Muslim, Katolik, Protestan, Budha, Hindu , atau bisa saja seorang Agnostik , dan lebih jauh lagi adalah seorang Atheis ,  jika Bapak/Ibu kita bera...

Kurban, apakah tidak bisa dikonversi ?

Gambar
  Seorang teman bule yang muslim pernah cerita bahwa, para imigran timur tengah di eropa cukup sulit menerima budaya-budaya negara dimana mereka tinggal. Misalnya kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat. Bahkan bukan cuma kesulitan menerima budaya, tapi melanggar aturan  yang sudah lama diterapkan di negara tersebut kerap dilakukan (kurang patuh). misalnya tidak diperbolehkan memotong binatang sendiri di rumah, para imigran timteng sering melanggar aturan tersebut ketika hari raya idul adha, yaitu memotong kambing. efeknya banyak sentimen negatif yang dialamatkan ke imigran Timteng dan muslim pada umumnya. sentimen negatif kemudian berkembang dari sekedar isu tidak taat aturan kepada isu yang lain; muslim dianggap tidak punya rasa kasihan kepada binatang (Kambing & Sapi), dimana proses pemotongannya dianggap kejam, yaitu dengan menggorok lehernya; proses memotongnya dilakukan di tempat terbuka, sehingga bisa dilihat anak-anak, dan secara tidak sengaja seperti menga...

Lagi Gangguan

Hari ini mungkin kali kelima saya datang ke cafe ini, seperti biasa, setelah duduk saya pesan kopi dan teman2 nya, bisa biscotti atau bisa juga cemilan-cemilan inlander, seperti singkong dan pisang goreng, biar lebih eksentrik ditaburi keju on the top, maka namanya pun sedikit lebih kedengaran kebarat-baratan "cassava cheese", "banana cheese",  Layaknya kaum urban, minum kopi tidak afdol jika tidak bisa menikmati fasilitas WIFI gratis fasilitas cafe, pikir saya "gue kan sudah pesan minuman dan makanan, masak gue tidak menikmati fasilitas gratis ini, rugi cooyy.." Bak power ranger, maka berubahlah saya dalam sekejap dari gaya paling macho menjadi fakir wifi, mengiba kepada waiters agar diberikan password wifi, dan bisa menikmati sejumput bandwidth yang mungkin masih tersisa. Saya: "mas, boleh minta password nya WIFI              sini ?" Waiters: "lagi gangguan, pak" jawab si waiters dengan mimik muka yang kesan nya acu...

Gugup dan Gagap

Gugup, semua orang pasti pernah mengalaminya, sebabnya banyak, bisa karena perasaan khawatir, tertekan atau juga bingung, gugup karena mendengar kabar akan ada rencana PHK pastinya akan bermuatan kekhawatiran yang lebih, tidak tahu apa yang akan dilakukan pasca PHK, terlebih pada saat wabah seperti sekarang. sadar umur sudah tidak lagi pada rentang produktif, sementara pada umur-umur tertentu, misalnya 45-50 kebutuhan sedang berada pada titik tertinggi, akan semakin menambah perasaan gugup, satu article menarik yang di release HBR ( Harvard Business Review ) pernah membahasnya. Setelah rasa gugup selesai dimana sudah diselesaikannya paket #PHK, maka beberapa korban PHK akan menghadapi problem yang baru yaitu, gagap, dimana rutinitas yang selama ini cuma menjadi pekerja tanpa pernah berbisnis sama sekali akan membuat orang gagap berwirausaha. dalam keadaan gugup dan gagap pastinya orang banyak melakukan kekeliruan dalam membentuk bisnis/usaha, ujung-ujung nya uang paket PHK yang diharap...

Garis Depan

Gambar
Dwight D. Eisenhower, US President ke 34 pernah membuat statement yang sangat insightful,  “Orang-orang yang tidak berada di garis depan, akan dengan mudah berkata bahwa perang itu tidak mengerikan” Terkait dengan statement di atas yang sangat menarik, bahwa kita sama-sama tahu, orang-orang yang berada di garis depan pada saat pandemic adalah tenaga-tenaga kesehatan seperti: dokter, perawat. tanyalah bagaimana mereka berjibaku  menghadapi pandemic, maka akan kita dapati cerita tentang kengerian, kelelahan, keputusasaan, cacian, kematian, dan juga harapan.  Sangat tidak bijaksana bahkan bisa dibilang bodoh jika kita bertanya tentang pandemic kepada para tokoh agama, politisi, bahkan para peramu kata, karena yang akan kita dapati cerita-cerita yang tidak masuk akal, sanggahan yang tidak berdasar, setumpuk lapuk cerita konspirasi, bahkan akhirnya mengarah ke hasutan,  Para tokoh agama mungkin berada di garis depan dalam urusan memperbaiki akhlak dan ketaqwaan, walaupun ...

Umat yang boros air

Gambar
Hari Senin tanggal 22 Maret  lalu diperingati sebagai Hari Air Sedunia, satu peringatan yang menjadi momentum penting dan relevan dengan tujuan no. 6 SDGs (Sustainable Development Goals) yaitu: Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya air dalam kehidupan manusia dan mahluk lainya. Bagi kita yang awam, atau kalau tidak baper, boleh dikatakan tidak peduli,  rasanya aneh bagaimana air yang sehari-hari kita lihat, gunakan untuk minum, masak, mandi dan wudhu kenapa mesti diperingati, kita hanya mengenal peringatan-peringatan keagamaan yang sarat konsumerisme dan nilai-nilai positif yang abstract, sulit diukur apakah hingar bingar perayaan tersebut membawa dampak positif atau tidak. fakta yang kita lihat dan dengar, bangsa-bangsa yang religius kurang atau tidak peduli dengan ekosistem, bumi yang kita hidup di dalamnya, mereka lebih fokus pada kehidupan akhirat yang katanya kekal, "biarlah bumi menjadi kerepotan Paniti...

Reputable university

Saya dulu suka tidak pede menjawab ketika ditanya lulusan dari mana sama rekan kerja, ketika saya masuk perusahaan asing, rekan kerja seperti tidak percaya saya cuma lulusan dari sekolah yang tidak terkenal, bahkan dari bahasa tubuhnya saya menebak pikirannya mereka mungkin seperti ini "kok bisa ya... ?", ini mungkin ya, bisa benar, bisa tidak. Iklan lowongan yang selalu mensyaratkan "from reputable university" juga dulu terasa intimidatif buat saya, bahkan saya suka mikir kelewat jauh, wah ini "diskriminatif", yang tentu saja tidak ada konsekuensi hukumnya. kalau kata Pak. Peter Febian, hal-hal tersebut adalah "realitas dunia dan pasar kerja" yang kita tidak bisa hindari, atau protest. Untuk mendapatkan kandidat terbaik sejumlah perusahaan pastinya mensyaratkan calon karyawannya dengan standar mereka, dan syah-syah saja. Lalu apakah kita mesti khawatir dengan syarat-syarat artifisial tersebut, secara kita sadari bahwa reputasi sejati adalah diri...