Gugup dan Gagap



Gugup, semua orang pasti pernah mengalaminya, sebabnya banyak, bisa karena perasaan khawatir, tertekan atau juga bingung, gugup karena mendengar kabar akan ada rencana PHK pastinya akan bermuatan kekhawatiran yang lebih, tidak tahu apa yang akan dilakukan pasca PHK, terlebih pada saat wabah seperti sekarang. sadar umur sudah tidak lagi pada rentang produktif, sementara pada umur-umur tertentu, misalnya 45-50 kebutuhan sedang berada pada titik tertinggi, akan semakin menambah perasaan gugup, satu article menarik yang di release HBR (Harvard Business Review) pernah membahasnya.


Setelah rasa gugup selesai dimana sudah diselesaikannya paket #PHK, maka beberapa korban PHK akan menghadapi problem yang baru yaitu, gagap, dimana rutinitas yang selama ini cuma menjadi pekerja tanpa pernah berbisnis sama sekali akan membuat orang gagap berwirausaha. dalam keadaan gugup dan gagap pastinya orang banyak melakukan kekeliruan dalam membentuk bisnis/usaha, ujung-ujung nya uang paket PHK yang diharapkan bisa menjadi penyambung hidup selanjutnya menguap entah kemana. 


ketidaktahuan tentang bagaimana membentuk usaha membuat orang mudah ikut-ikutan usaha yang sedang ramai, yang paling gampang ditiru misalnya: buka Laundry kiloan, air minum isi ulang, buka photocopy, dan sebagai. terkadang mereka lupa menghitung adanya fixed cost/biaya tetap, misalnya sewa ruko/kios dimana begitu banyak kios dan ruko yang harga sewanya selangit & tidak bisa di-cover/ditutup dengan perputaran omset. pelan tapi pasti modal kerja/working capital terkikis dengan kebutuhan sehari-hari. tragis. 


Hal diatas tentunya menjadi tantangan buat para praktisi HR,  dimana seharusnya para HR bisa mengemas paket rasionalisasi dengan menambahkan kepedulian sosial, yaitu dengan memberikan fasilitas training wirausaha buat para pekerja yang akan di-PHK, salah satu teman saya bercerita bahwa tempat dia bekerja dulu pernah merencanakan program rasionalisasi dengan mengikutsertakan para karyawan yang masuk dalam daftar PHK kursus berbagai bentuk #wirausaha. menarik tentunya. 


sudahkah para praktisi berpikir kesana. Mungkin sudah banyak, tetapi kita tidak tahu. mudah-mudahan para HR bisa lebih berani mengusulkan kepada para pengusaha untuk mengemas paket rasionalisasi yang lebih konstruktif. 


Salam,

Zarkasyi Husin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk