Umat yang boros air
Hari Senin tanggal 22 Maret lalu diperingati sebagai Hari Air Sedunia, satu peringatan yang menjadi momentum penting dan relevan dengan tujuan no. 6 SDGs (Sustainable Development Goals) yaitu: Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan. Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya air dalam kehidupan manusia dan mahluk lainya.
Bagi kita yang awam, atau kalau tidak baper, boleh dikatakan tidak peduli, rasanya aneh bagaimana air yang sehari-hari kita lihat, gunakan untuk minum, masak, mandi dan wudhu kenapa mesti diperingati, kita hanya mengenal peringatan-peringatan keagamaan yang sarat konsumerisme dan nilai-nilai positif yang abstract, sulit diukur apakah hingar bingar perayaan tersebut membawa dampak positif atau tidak. fakta yang kita lihat dan dengar, bangsa-bangsa yang religius kurang atau tidak peduli dengan ekosistem, bumi yang kita hidup di dalamnya, mereka lebih fokus pada kehidupan akhirat yang katanya kekal, "biarlah bumi menjadi kerepotan Panitia kehidupan, yaitu Tuhan", begitu kata teman saya yang sulit dimengerti. rasanya mubazir Tuhan melengkapi tubuh manusia dengan otak, padahal bisa digunakan untuk mengkaji bahwa, yang hidup tidak kekal, dan yang kekal tidak hidup, lalu bagaimana bisa ada kehidupan kekal.
Suka tidak suka, setuju atau tidak setuju sama sekali bahwa, fakta menunjukan Muslim adalah umat beragama yang paling boros air dibanding umat yang lainnya; umat muslim minum, non muslim pun minum; muslim mandi, non muslim pun mandi, muslim cebok/istinja, non muslim pun melakukan hal yang sama; walaupun di negeri bahagian barat sana kertas tisu menjadi korban; dan hanya berwudhu 5 kali dalam sehari yang tidak dilakukan oleh non muslim.
Jika berdasarkan statistik rakyat Indonesia jumlahnya 270 juta, dan asumsinya 70% adalah muslim, maka yang paling banyak menggunakan air untuk keperluan sehari-hari adalah muslim, belum lagi kalau difaktorkan dengan berwudhu 5 kali dalam sehari, ditambah lagi jika syarat kesalehan harus dengan memperbanyak sholat sunnah, jadwal malam jum'at yang tidak cukup sekali dalam seminggu; sehingga bukan cuma boros air, tapi juga boros shampo. Maka secara agregatif muslim adalah pengguna air terbanyak di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. bayangkan misalnya sehari kita minum 1 liter, 2 kali mandi 10 liter, wudhu 5 kali dan masing-masing @3 liter, maka total dalam sehari semalam kita menghabiskan 26 liter air, dikalikan 189,000,000 muslim, maka total penggunaan air adalah sebesar 4,914,000,000 liter, atau ekuivalen 4,914,000 kubik. lalu mau apa dengan angka-angka tersebut ?.
Jika Muslim menyadari sebagai umat beragama yang paling boros menggunakan air, sudah seharusnya inisiasi penghematan air dikampanyekan, teknologi diciptakan oleh para muslim di Indonesia dan dunia. Saya sering mendapati orang berwudhu lama sekali sampai harus dilewati 2, 3 orang di sebelahnya, mungkin khawatir tidak syah, karena mendengar ceramah ustadz terkenal yang bilang "kesalahan muslim dalam berwudhu selama ini". Kita tidak bisa bayangkan, islam hadir sudah 1,500 tahun di dunia, hanya berwudhu saja masih salah, apakah ustadz nya yang bodoh dan eksklusif, atau jamahnya yang bebal.
Kajian-kajian fiqih yang kita dapati selama ini masih didominasi dan dibatasi pada syah atau tidaknya hubungan vertikal, dan melupakan hubungan horizontal, keharmonisan dengan alam sekitarnya. Tempat dimana kita menghirup udara, menikmati air bersih. Sudah saatnya ajaran-ajaran agama lebih menekankan pada kesadaran akan kelestarian alam, bumi yang kita dan anak cucu singgahi.
Wallahu a'lam.
Salam,
Zarkasyi Husin

Komentar