Berbahagialah yang pernah memilih

 



Tidak seperti biasanya, salah satu WA group para profesional yang saya ikuti yaitu, ICMA (Institute Management Accountant Australia) semalam salah satu anggotanya membagikan artikel yang cukup menarik untuk dibaca, agak sensitif, tapi mampu memancing para anggotanya untuk saling komen, dan menghasilkan diskusi yang sehat, walaupun keluar dari pakem.


Diskusi semalam adalah tentang Warisan, tidak dikaji atau didiskusikan dalam perspektif Accounting atau Finance seperti biasanya kami lakukan, tapi ini tentang Agama Warisan, tentang kita yang tidak pernah bertanya kenapa kita beragama Islam, Katolik, Protestan, Budha atau Hindu, karena jawabanya sudah kita ketahui bahwa, leluhur, kakek nenek, bapak ibu kita beragama yang kita yakini sekarang, maka otomatis kita pun sama dengan mereka. Bisa jadi kita yang sekarang adalah seorang Muslim, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, atau bisa saja seorang Agnostik, dan lebih jauh lagi adalah seorang Atheis,  jika Bapak/Ibu kita beragama atau mempunyai keyakinan seperti yang disebut di atas, maka tidak salah kalau ada  anggapan bahwa agama yang kita yakini sekarang adalah warisan orang tua kita.


Kita yang didik dengan doktrin bahwa Islam, sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan maka akan menganggap selain Islam adalah kesesatan, tidak akan selamat, dan ujung-ujungnya masuk neraka. Begitu juga sebaliknya, orang-orang yang lahir dari orang tua yang beragama lain seperti: Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan lain-lain akan menganggap bahwa agamanya adalah jalan keselamatan paling benar, di luar agama mereka tidak benar. 


Sepanjang perjalanan hidup, kita tentunya pernah melalui satu proses menentukan dan memilih, kita pernah memilih sekolah mana yang terbaik, kerjaan apa yang paling menjanjikan, tempat tinggal yang paling nyaman, atau jodoh yang baik dan hanya bisa dipisahkan oleh maut. proses memilih yang kita lalui pastinya melalui pemikiran yang dalam, dengan pertanyaan yang sering muncul "apakah pilihan kita adalah yang paling tepat dan benar",  tapi harus kita akui bahwa kita tidak pernah memilih untuk menjadi Muslim, Katolik, Protestan, Budha atau Hindu,  prosesnya begitu saja terjadi. Kita bukan Ibrahim yang hanif dan pintar ketika pencariannya berakhir bahwa Tuhan yang patut disembah adalah  zat yang tidak pernah timbul tenggelam, maka bersyukurlah dengan firman-firman Tuhan tentang kebenaran yang sudah terbentang.


Berbahagialah yang pernah memilih, perjalanannya begitu melelahkan jiwa, tapi begitu eksploratif, dijauhi dan dibenci teman, saudara, bahkan orang  Tua adalah resiko tak terelakan. 


Bersyukurlah yang tidak pernah memilih, puas dan bahagia dengan warisannya, tidak perlu iri dan menjelekan warisan orang lain, karena masing-masing adalah jalan keselamatan yang diyakini masing-masing.


Salam

Zarkasyi Husin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk