Reputable university
Saya dulu suka tidak pede menjawab ketika ditanya lulusan dari mana sama rekan kerja, ketika saya masuk perusahaan asing, rekan kerja seperti tidak percaya saya cuma lulusan dari sekolah yang tidak terkenal, bahkan dari bahasa tubuhnya saya menebak pikirannya mereka mungkin seperti ini "kok bisa ya... ?", ini mungkin ya, bisa benar, bisa tidak.
Iklan lowongan yang selalu mensyaratkan "from reputable university" juga dulu terasa intimidatif buat saya, bahkan saya suka mikir kelewat jauh, wah ini "diskriminatif", yang tentu saja tidak ada konsekuensi hukumnya. kalau kata Pak. Peter Febian, hal-hal tersebut adalah "realitas dunia dan pasar kerja" yang kita tidak bisa hindari, atau protest. Untuk mendapatkan kandidat terbaik sejumlah perusahaan pastinya mensyaratkan calon karyawannya dengan standar mereka, dan syah-syah saja. Lalu apakah kita mesti khawatir dengan syarat-syarat artifisial tersebut, secara kita sadari bahwa reputasi sejati adalah diri kita sendiri, kinerja dan prestasi kita sendiri, karena universitas sekedar simbol imajiner.
Saya yang dulu selepas SMA harus bekerja untuk menopang ekonomi keluarga, bisa kuliah saja dengan biaya sendiri rasanya seperti prestasi luar biasa, tidak mikir apakah tempat kuliahnya reputable atau tidak, yang penting bisa merubah kualitas diri dan ekonomi menjadi lebih baik.
Saya, atau anda yang mungkin tidak seberuntung teman-teman lain yang bisa kuliah di reputable university, tetaplah bersyukur, jika hari ini kita masih punya pekerjaan, penghasilan, punya istri, anak, rumah sebagai tempat berteduh, dan sedikit assets, setidaknya kita sudah membangun reputasi kita sendiri, melampaui syarat-syarat artifisial, dan sejatinya sukses.
Salam Nusantara
Komentar