Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

Berkhidmat pada Prokes

  Sejak Covid melanda, kita diwajibkan memakai Masker, padahal senyum ini terlalu manis untuk tidak diperlihatkan, sedekahku dan sedekahmu berkurang. Kita mematung, membisu, walaupun berdiri dan duduk bersebelahan. Ingin menyapa tapi disergap curiga, jangan-jangan teman ini terjangkiti. Sampai vaksin sudah disuntikan kita pun bersuka cita, gembira meruah, harapan hidup meningkat. Tapi tidak serta merta kita boleh mengembara sesuka hati, masih ada protokol yang harus kita patuhi, dan sabda para bijak bestari yang mesti kita imani. Perintah siiru fil ardh menjadi usang, atau memang kita harus sedikit mengurangi. Hari ini kita berkhidmat pada science, pada prokes, tunduk, walaupun tidak dalam bentuk sujud. "itu haram" kata para orang suci yang seluruh hidupnya dihantui kecemasan dan kekhawatiran. Lalu kapan kita berkehendak, tunggu saja dengan sabar, pasti ada waktunya. yakini saja. Apa yang kita ciptakan, maka kita pula yang bisa mengendalikan.  Have a good Sunday

Masjid sebagai persembahan atau tempat menyembah ?

Gambar
Selain Wakatobi yang sudah menarik turis mancanegara berkunjung dan berlibur, Sulawesi Tenggara juga punya obyek wisata yang tidak kalah menarik; yaitu Masjid Alam Kendari; atau orang lebih mengenalnya sebagai Masjid terapung . Walaupun tidak setenar Wakatobi, setidaknya masjid terapung cukup dikenal dan banyak dikunjungi oleh turis lokal seperti: warga Kendari dan sekitarnya, dan  juga warga luar provinsi Sulawesi Tenggara, itupun bagi yang punya kendaraan, mengingat letaknya yang jauh dari pemukiman, bagi warga luar provinsi Sultra, bisa mengunjungi masjid terapung juga karena perjalanan dinas. Seperti saya tentunya.  Dari informasi yang saya gali, masjid terapung Kendari mulai dibangun pada tahun 2010, tepatnya saat masa kepemimpinan gubernur Nur Alam,  selesai dibangun pada tahun 2018, menghabiskan dana sebesar 200 milyar rupiah.  Masjid ini luas bangunanya 12,692 M² dan halaman parkirnya 2 kali dari luas bangunanya. Konon masjid ini mampu menampung 10,000 jamaah...

Menikah muda, atau meniti karir dulu ?

" Menentukan kapan waktu yang tepat untuk menikah adalah strategi hidup", begitulah jawaban saya ketika salah seorang junior bertanya kepada saya "kenapa dulu memutuskan menikah muda ?".  saya menikah menjelang umur 27, sebetulnya tidak muda-muda bangat, apalagi telat, ga mungkin lah, kecuali umur 40, itu sih bukan telat, tapi menunda menikah.  jika kita percaya sejarah bahwa,  dulu Nabi menikah umur 25 dan diyakini sebagai umur yang ideal atau pas untuk menikah, maka setidaknya saya mengikuti sunnah nabi, agak telat sedikit sih, tapi setidaknya syarat minimal terhindar dari narasi falaisa minni terpenuhi, walaupun ketika mau memutuskan menghalalkan anak gadis orang sempat ragu. Sebelum menikah saya punya cita-cita tinggi, walaupun tidak setinggi langit; menjadi manajer dulu sebagai pencapaian tertinggi karir, punya pengalaman meeting dan training ke luar negeri gratis, punya rumah sederhana walaupun harus kredit via BTN, punya kendaraan, tidak muluk-muluk, cukup ho...