(Aku) tak mau berbagi cermin



Hari ini saya membaca tulisan menarik tentang puisi-puisi Chairil Anwar.


Kata penulis, puisinya terlalu individualistik dengan ke-Akua-anya sebagai laki-laki, Sarat dengan Maskulinitas.


Saya pribadi tertarik membahasnya dalam lingkup bias gender. 


Aku (sebagai laki-laki) pemegang kekuasaan, Otoritatif atas semua hal, dan memandang Wanita hanya sebatas objek, dipandangi, diperebutkan bak trofi, diminta melahirkan banyak anak. 


ketika Wanita ingin menjadi subjek maka mereka harus menjadi seperti laki-laki atau menggantikan fungsi subyektif laki-laki itu sendiri.


Tidak jarang ketika melihat seorang Ibu-ibu yang mampu membesarkan, merawat, membiayai, menyekolahkan, sampai berhasil maka komentar yang kita sering dengar adalah “ibu itu seperti kepala rumah tangga”, bukan penilaian yang jujur bahwa dia memang sejatinya adalah Kepala rumah tangga ketika menggantikan fungsi laki-laki.


Pengakuan jujur seperti membentur tembok tebal yang diimani bahwa “Laki-laki adalah pemimpin para wanita”.


Dunia sepertinya diciptakan hanya untuk Laki-laki, semua Nabi dan Rasul yang diimani adalah laki-laki, raja-raja agung dan panglima perang besar adalah laki-laki, dan Manusia yang diciptakan pertama juga laki-laki.


Kenapa juga Tuhan yang diimani maha adil iseng menciptakan Laki-laki duluan, kalau memangnya harus bersatu, Kenapa tidak diciptakan bareng saja, kenapa juga Wanita berasal dari sempalan Laki-laki yaitu tulang rusuk. 


Hal paling menyedihkan dan tidak adil buat ibu-ibu yang berhasil membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya adalah, sebrengsek-brengsek seorang bapak (laki-laki) namanya tetap ada di dalam ijazah anaknya, dan menjadi wali nikah Anak perempuannya. 


Salam

ZH












Komentar