Lebih dari selamanya


“Kamu akan menikah lagi tidak kalau aku mati duluan?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Rifa, ringan seperti buih, dibungkus nada setengah bercanda yang seharusnya tak perlu diambil hati. Namun, di ruang tamu yang hangat itu, Salim menjawabnya dengan ketegasan yang melampaui logika. “Tidak lah,” tukasnya, disusul gumaman kecil, “Ngomong apa sih kamu.”


Bagi Salim, kalimat itu bukan sekadar obrolan pengantar tidur. Ia adalah segel.

Dalam film Lebih dari Selamanya, Donny Alamsyah (Salim) dan Shareefa Daanish (Rifa) tidak sekadar beradu peran; mereka memotret sebuah arsitektur rumah tangga yang ideal namun rapuh di hadapan takdir. 


Salim adalah prototipe ayah yang tangguh, sementara Rifa adalah tiang penyangga yang tetap kokoh saat fondasi ekonomi dan psikologi suaminya mulai retak. 


Mereka adalah dua kutub yang saling mengunci dalam janji: mencintai sampai maut, dan bertemu kembali di surga.

Namun, hidup punya selera humor yang getir.


Gelembung Kenangan yang Menyesakkan


Rifa pergi lebih dulu. Ia meninggalkan ruang kosong yang luas di hati Salim dan pada diri putri kecil mereka, Nasya. 


Di sinilah perjalanan kehidupan Salim dimulai—bukan dengan ledakan tangis, melainkan dengan kesepian yang pelan-pelan menggerogoti.


Secara medis, jantung Salim didiagnosis bocor. Namun, secara puitis, mungkin jantung itu memang sedang mencari jalan untuk menyusul separuh jiwanya. Meski fisiknya melemah, Salim membungkus kerapuhannya dengan lapisan optimisme yang tebal. 


Ia memilih hidup dalam "gelembung kenangan".

Baginya, Rifa masih ada di sana:

Dalam tawa yang tertinggal di sudut ruang;

 ;Dalam kecerdasan yang membimbing pendidikan Nasya; Dalam kesetiaan yang tak luntur meski raga telah dikubur.


Setiap wanita yang mencoba mengetuk pintu hatinya hanya menemukan pintu yang terkunci rapat dari dalam. Bagi Salim, jatuh cinta lagi bukan sekadar "melanjutkan hidup", melainkan sebuah pengkhianatan atas janji yang diucapkan saat istrinya masih bisa mendengar.


Antara Fiksi dan Iman


Yuval Noah Harari mungkin pernah menulis dalam Sapiens bahwa pernikahan adalah sebuah "fiksi" yang diciptakan manusia untuk bekerja sama dalam tatanan sosial. Namun, bagi Salim—dan jutaan orang beriman lainnya—pernikahan adalah sebuah sakramen yang menembus batas ruang dan waktu.


Di titik ini, film ini bukan lagi sekadar tontonan, melainkan refleksi tentang esensi kehilangan. Ketika sains berkata bahwa kematian adalah akhir dari proses biologis, iman menawarkan narasi yang lebih romantis: bahwa cinta memiliki alamat di kehidupan setelah ini.


Menunggu untuk bertemu kembali dengan pasangan yang dicintai di surga bukan sekadar harapan; itu adalah bahan bakar yang membuat Salim tetap tegak berdiri, meski jantungnya tak lagi utuh.


Melihat film ini saya jadi ingat nasihat Rumi bahwa "Perpisahan hanya untuk mereka yang mencintai dengan mata, karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tidak ada yang namanya kata perpisahan"


Salam

Zarkasyi Husin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk