Supardi, BUMAS & BUMM
Entah, siapa dan apa dulu yang saya mesti duluan bahas dalam tulisan ini, apakah tentang Supardi, BUMAS atau BUMM, tapi ketiganya berkaitan.
Pak. Dhe Pardi, begitu dia biasa dipanggil oleh tetangganya, teman-teman DKM, sekolah, komunitasnya, bahkan teman-teman sekolah istrinya. Saya pun ikut memanggilnya Pak. Dhe, bukan ikut-ikutan, itu satu upaya yang tidak bisa dibilang basa-basi, tapi lebih kepada panggilan penghormatan karena beliau lebih tua dari saya yang terkonfirmasi karena tepat tahun 2020 beliau pensiun di usia 58 tahun.
Supardi adalah suami dari teman sekolah istri saya, beliau adalah pensiunan dari departemen pertanian. Laku hidup sebagai penyuluh selama bertahun-bertahun dia ceritakan dengan dengan semangat kepada saya. Ada pancaran kepuasan dan kebahagiaan di matanya, cerita tentang apa yang dia lakukan pada masa pensiun sekarang adalah adalah laku pamungkas, beliau aktif di Masjid. it might be called the ultimate of life, baik secara spiritual maupun humanis.
Cerita beliau aktif di masjid adalah bukan sekedar sholawatan dengan pengeras suara; membangunkan orang dengan tarhim; atau berdiam diri sehari semalam di masjid, beliau dan teman-teman mendirikan BUMAS (Badan Usaha Masjid), satu kata yang mengingatkan saya pada sinetron religi PPT (Para Pencari Tuhan) dimana dalam salah satu episodenya membahas kata yang berbeda tapi bermakna sama, yaitu BUMM (Badan Usaha Milik Masjid), satu konsep bagaimana uang kas masjid dinilai gunakan.
BUMAS atau BUMM bukan sekedar kata yang terpampang mewah di poster wacana, mereka menjelmakannya dengan membuat sumur yang airnya disalurkan ke warga-warga yang membutuhkan.
Masyarakat sekitar masjid senang dan bahagia, tinggal di tanah perbukitan memang bukan perkara gampang untuk mendapatkan sumber air yang berlimpah, maka ketika BUMAS hadir dengan solusi mereka sambut dengan sukacita, walaupun harus mengganti dengan sejumlah uang setiap bulanya.
Pak. Dhe Pardi dan teman-teman DKM nya tidak mengkapitalisasi uang kotak amal masjid, tapi melakukan utilisasi atau menilai gunakan, uang kotak amal bukan sekedar jadi bahan pengumuman setiap sholat Jumat.
Gerakan-gerakan membangun BUMAS atau BUMM mungkin sudah banyak dilakukan orang, tapi tidak terekspos. Saya membayangkan betapa indah ketika rumah-rumah beribadah seperti masjid bisa bermanfaat buat warga sekitarnya, atau yang lainya, bukan rumah ibadah yang angkuh, yang ketika orang ingin menumpang tidur saja tidak boleh.
Saya membayangkan betapa indahnya ketika masjid-masjid membuka pintu lebar-lebar untuk para gelandangan tidur untuk sekedar melepas lelah, tempat mereka menumpang mandi, membersihkan diri.
Pagi tadi saya mendengar berita yang membuat saya terhenyak dan sedih. Pak. Dhe Pardi telah meninggal dunia, seakan tidak percaya karena 2 hari lalu saya mendengar kabar dia begitu bahagianya menerima tumbler-tumbler kiriman saya.
Dua hari menginap di rumah beliau terasa 2 semester saya mempelajari mata kuliah arti kehidupan. Memaknai Akhir kehidupan yang indah beliau bukan didapat dengan mendengarkan ceramah yang harus membayar 1,500,000 per sesinya, tapi dengan laku hidup yang bermanfaat buat orang lain.
Jean Paul Satre pernah bilang dalam teori eksistensialisme nya bahwa “hidup tidak memiliki makna bawaan, tapi manusia harus menciptakan makna dengan pilihan dan tindakan”, dan Pak. Dhe Pardi telah memilih dengan melakukan perbuatan yang bermakna.
Selamat jalan Pak. Dhe, saya bersaksi bahwa Panjenengan sebaik-sebaik nya Manusia.
Salam
Zarkasyi Husin

Komentar