Masalah, Persepsi, Harapan atau pendapat umum
Pagi-pagi buta saya nyalakan HP untuk sekedar mengecek apakah ada WA masuk dari orang-orang tercinta terdekat (Istri/Anak). Ternyata tidak ada, sepertinya saya seorang suami dan bapak yang kurang dirindukan, nasib, padahal mungkin saya adalah surga terdekatnya mereka.
“Ting” tiba-tiba masuk satu pesan di media profesional account saya, satu ajakan untuk menjadi donatur tetap satu lembaga nirlaba yang program khususnya di pemberdayaan perempuan. menarik.
Tidak sering memang, tapi sekali, dua kali saya suka dapat direct message seperti itu, apakah karena saya pernah jadi donatur lembaga nirlaba, atau karena mesin algoritma menganalisa saya cukup peduli dengan isu-isu pemberdayaan perempuan, atau sekedar pesan nyasar, sekedar tembakan spekulasi, entahlah, hanya Algoritma dan Tuhan yang tau.
Saya coba click laman organisasinya, terlihat sederhana tapi menarik, penuh dengan info program, baik yang existing maupun yang sudah selesai, juga cara berdonasi. saya tidak melihat ada photo besar-besar pendiri, pembina, pengawas maupun pengurusnya di halaman mukanya, atau photo sedang salaman pengurus dengan penerima bantuan. Mungkin mereka sudah selesai dengan dunianya, tidak seperti saya (insan lemah ini) atau kita yang masih haus pengakuan.
Organisasi nirlaba ini tidak tersesat dalam labirin persepsi, harapan dan pendapat umum, mereka cukup pintar mengidentifikasi MASALAH, sehingga melahirkan salah satu program bagus yaitu: Markoding, satu program yang membantu anak-anak perempuan dari ekonomi lemah untuk belajar coding, web development, Ui/UX design, mereka konsentrasi di peningkatan kemampuan STEM ( Science, Technology, Engineering & Mathematics). Tujuan jelas untuk kesetaraan gender agar bisa bersaing dalam mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Banyak organisasi baru atau perkumpulan masa sering terjebak pada persepsi, pendapat umum, dan harapan yang utopis ketika membuat visi dan misinya, sering mengawang-ngawang, sehingga agak sulit diukur. Mereka kurang familiar mengidentifikasi masalah.
Tidak mudah memang mengidentifikasi masalah, perlu orang-orang expert yang punya kemampuan blink ketika melihat satu phenomena, kemudian gunakan alat statistik, jejali dengan angka-angka, lalu memuntahkan rasio-rasio yang mungkin tidak mudah dimengerti oleh orang awam.
Kata orang rasio-rasio tidak merefleksikan masalah yang aktual. saya setuju, tapi saya mengimani alat statistik yang pasti sudah diuji berkali-kali kemampuan pengolahan datanya, yang perlu dicermati adalah masalah bagaimana kita mendapatkan datanya, maka dalam penelitian ilmiah segambreng data akan melewati uji reliabilitas dan validitas agar bisa diterima kesimpulanya.
“Kok sulit amat ya” ya memang sulit, tapi ada kok cara yang mudah dan singkat mengidentifikasi masalah.
Minta pendapat ahli yang sudah teruji kemampuan dan pengalamanya.
Intinya jangan terjebak pada persepsi, pendapat umum dan harapan.
Salam
Zarkasyi from Samarinda with Love 😁
Komentar