King The Land


Saya terpaksa menontonya, mungkin itu narasi pembuka paling tepat untuk tulisan ini. Seorang dosen mata kuliah Strategic Management dan Business Modelling setengah menganjurkan kami untuk nonton drakor King The Land. banyak pelajaran berharga yang bisa diambil katanya. Saya tidak percaya.


Dalam bayangan saya, drama Korea atau lebih terkenal dengan singkatan drakor, adalah film-film khas Korea yang mudah ditebak plot dan endingnya, kalau tidak cerita percintaan romantis menyek-menyek, paling cerita tentang pembulian di sekolahan, kampus, dan tempat kerja, atau juga tentang politik bisnis keluarga. 



Bayangan saya tidak salah, walaupun tidak sepenuhnya benar. King The Land menghadirkan sesuatu yang sedikit berbeda, ada hal-hal yang menarik untuk dikaji, related dengan ilmu management, khususnya dalam lingkup corporate level strategic, dan business modelling. Saya tidak akan cerita seperti cerpen tiga babak, apalagi kisah percintaan didalamnya, kepanjangan, cukup bagian tengah dan akhirnya saja. 



Dikisahkan, Gu Won, dengan kualifikasi: pria, good looking, mungkin karena sering bersolek seperti cowok Korea pada umumnya, lulusan UK business school dengan gelar MBA, smart, idealis, humanis, nol pengalaman dan masih muda. 


Dua kualifikasi terakhir Gu Won menjadi batu sandungan. Kakak tiri perempuanya yang bernama Gu Hwa menganggap Gu Won masih terlalu hijau, dikhawatirkan tidak akan mampu merunning dan memimpin bisnis keluarga.


Begitulah para senior yang lebih tua. dimana-mana sama, suka underestimate kemampuan anak-anak muda. Mereka bangga dengan jubah kebesaran usia; bermahkota jumawa; zona nyaman bak singgasananya, segala bentuk perubahan dan inovasi adalah barang haram.


Mereka memang lahir duluan, itu pasti; lebih banyak makan asam garam, tidak diragukan; ingin berkuasa selama-lamanya, sudah banyak contohnya, tapi apakah mereka lebih mampu memimpin, belum tentu.  


Ego mereka (para senior)  layaknya tirani, kejam menekan, bahkan tak segan membunuh potensi-potensi muda yang mulai muncul. Cemooh sinis mereka disemburkan ke bara perubahan yang menyala. Orang-orang senior sering kali meracau tanpa malu. "Bagaimana nasib perusahaan ini jika aku sudah tidak memimpin". Para pengikut fanatiknya menggaris bawahi setuju. Mereka tidak sadar sedang mengkerdilkan diri sendiri dan berjuta manusia. Terkutuklah kaum fanatics.


Gu Won tidak ambil pusing dengan keraguan dan cemooh sentimen kakaknya. Sebaliknya Gu Il Hun, bapaknya, malah memberikan kepercayaan dan menempatkan dia di posisi General Manager (GM) King Hotel, salah satu unit bisnis tertua King Corporation. 


Satu episode yang menarik buat saya dan mungkin penonton lainya adalah ketika  Gu Won diserahi tugas menyukseskan acara perayaan 100 tahun berdirinya King Hotel. Tidak seperti kakaknya (Gu Hwa) yang pada acara company anniversary selalu mengundang para politisi dan memberi panggung untuk sambutan, dan juga orang luar yang dianggap hebat tapi tidak punya kontribusi apa-apa terhadap perusahaan. Gu Won malah melakukan yang sebaliknya, dia mengundang beberapa karyawan senior yang penuh dedikasi, kontribusi, serta setia untuk bicara di atas panggung. Diantaranya adalah:


Seorang doorman/peramu pintu yang santun dan dedikatif. Konon keramahan dorman ini dalam menyambut tamu dan membukakan pintu bak magnet yang mampu menarik kembali tamu hotel untuk datang sekedar makan siang di restoran, menginap, atau mengenang momen-momen indah bersama pasangan. 


Room Girl (peramu kamar) yang sudah lanjut usia, tenaga maintenance kelistrikan, bahkan seorang tukang potong daging di dapur sekalipun dimuliakan, dengan memberi mereka kesempatan bercerita di atas panggung bagaimana mereka bekerja dengan kecintaan sepenuh hati.


Kata Harari “Merek itu fiksi”, dan Gu Won pun sadar bahwa King The Land juga fiksi, sama dengan merek dagang lainya seperti Aston, Hyatt, Swissbell, Honda, Yamaha, BMW dan lain-lain. merek-merek tersebut tidak akan mendunia dan disukai orang jika tidak berkualitas, dan kualitas yang bagus dihasilkan oleh pekerja-pekerja (manusia) yang bagus, yang penuh kecintaan dengan pekerjaanya, terbuka dengan perubahan; perbaikan berkesinambungan, berdiri ajeg setia membangun merek dan perusahaan yang menaunginya. 


Di luar dugaan, Gu Won pun tak lupa mengundang seorang tamu hotel setia yang pernah memberikan sumbangan pohon, walaupun hanya sekedar pohon, tapi Gu Won merasa orang tersebut mempunyai jasa besar kepada King Hotel. Gu Won benar-benar memanusiakan manusia. Kata dia, "tidak ada pekerjaan yang tidak penting, tidak ada batuan yang kecil". Dia menolak tamu kakaknya untuk bicara di atas panggung, dan melontarkan komentar yang menohok "Kesuksesan yang didukung kekuasaan akan hilang ketika kekuasaan itu runtuh".


Episode pamungkas disuguhi dengan kompetisi ide. Gu Il Hun menantang kedua anaknya mempresentasikan rencana strategis perusahaan. Gu Hwa tampil duluan dengan rencana strategisnya, yaitu bertahan di tengah krisis.


Langkah-langkahnya adalah memangkas biaya operasional, baik itu fixed cost (biaya tetap) dan variabel cost (biaya variabel). Sumber daya manusia akan menjadi korban pertamanya,  mengganti yang senior dengan junior dengan harapan bisa membayar gaji lebih rendah. Mengurangi segala bentuk natura (kenikmatan) karyawan seperti kualitas makanan kantin, air mineral, bus jemputan,  Yang lebih berani adalah mempekerjakan tenaga magang dengan standard salary magang. “Itu langkah yang sangat beresiko, dikhawatirkan kualitas pelayanan akan menurun” sanggah dan tantang Gu Il Hun. Tapi Gu Hwa confident bahwa strategy bertahanya akan menghemat biaya operasional 10 Milyar dalam setahun.  Gu Il Hun terpukau, bagi dia semua rencana strategis bukan hanya sekedar narasi, tapi harus punya nilai komersial, bisa dikuantifikasi. Gu il Hum belum puas dengan angka senilai 10 Milyar saja, dia berharap Gu Won bisa mempresentasikan langkah strategisnya dengan nilai komersial yang lebih.  


Gu Won tampil dengan kualitasnya, sejumlah rencana strategisnya dia paparkan dengan sangat baik, bisa dikatakan sebagai Corporate dan Business level strategy, dari rencana diversifikasi, memasuki pasar baru dengan jaringan hotel global, menjadikan King Hotel menjadi konsultan management hotel kelas dunia. Revenue stream (aliran pendapatan) nya bukan hanya menjual product kamar, tapi juga jasa profesional lainnya. Rencana strategis Gu Won mengenerate revenue mencapai 100 Milyar won, 10 kali lipat dari rencana strategis Gu Hwa. jeder. Gu il Hun mengetok palu tanda setuju dengan rencana Gu Won. 


Mungkin banyak orang bilang bahwa rencana Gu Hwa lebih mudah dilakukan, apa susahnya memangkas biaya dengan layoff (mengurangi pekerja). Pastinya tidak mudah, karena tentu harus memikirkan legal aspeknya, kemungkinan besar juga akan ada perlawanan dari pekerja melalui serikatnya.  


Rencana strategis Gu Won bisa dibilang rencana optimistis, tapi juga belum tentu dipastikan berhasil. Rencana  ekspansi membutuhkan resources besar, baik itu dana dan tenaga. Jika tidak kerja cerdas dan keras maka kemungkinan besar akan gagal. Lalu rencana strategis siapa yang paling benar ?. 


Jawabannya: Tidak ada kebenaran absolut dalam ilmu management, 


jinjja' [진짜] ?



감사합니다 (Kamsahamnida)

Sun Dwong Aah









Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk