Lebaran
Lebaran, kata sebagian orang hanya bisa dirayakan oleh yang berpuasa, saya tidak sependapat, kecuali idul fitri, sesuai makna yang dipahami yaitu kembali makan pagi, maka hanya orang yang berpuasa yang bisa merayakannya.
Lebaran sejatinya dirayakan dan disyukuri banyak orang, bukan hanya muslim, tapi non muslim juga. Lebaran telah bertransformasi menjadi festival yang kegembiraannya bisa dirayakan oleh semua orang. Gembira karena merasakan efek positif yang ditimbulkan, yaitu konsumsi.
Bisnis pakaian bergeliat karena efek konsumsi menjelang lebaran, pedagang dan pegawainya bahagia karena dagangannya laku, upah bisa dibayar dan keuntungan pun diraih.
Para pedagang sembako pun merasakan efek positif lebaran yang sama, penjualannya meningkat dari hari biasa, maka pendapatannya pun meningkat dari biasanya.
Kesimpulannya, lebaran bisa memberikan efek positif hampir kepada semua sektor bisnis, produsen, konsumen, dan juga semua sektor bisnis pendukungnya.
Sejatinya sebuah festival, apapun namanya, selain mempunyai efek positif pasti juga melahirkan efek negatif.
Efek negatif lebaran yang paling dekat dengan kita adalah akibat konsumsi daging, pada dua hari yang sama umat islam di Indonesia hampir seluruhnya mengkonsumsi daging, bahkan mungkin umat islam sedunia.
Kita kurang menyadari bahwa ternyata mengkonsumsi daging memberikan efek meningkatnya global warming atau pemanasan global. Mekanisme bagaimana daging memberikan efek pada pemanasan global mungkin terlalu panjang untuk dijabarkan.
Jika statistik mencatat bahwa Umat islam adalah umat terbesar kedua di dunia, maka otomatis menjadi kontributor kedua pemanasan global, itu baru dari konsumsi daging, belum lagi dari konsumsi energi.
Seminggu sebelum lebaran, dan banyak muslim yang pulang kampung untuk merayakan lebaran, seminggu setelah lebaran maka ramai-ramai kembali ke kota.
Bayangkan berapa konsumsi energy yang dibutuhkan pada saat bersamaan. Baik fuel yang dibutuhkan kendaraan darat, laut, dan udara, tentunya besar sekali dan besar pula efek pemanasan globalnya.
Kita tidak tahu berapa derajat panas bumi naik pada saat lebaran, 1⁰ (satu derajat) kah, atau 0,000⁰ (nol koma nol nol nol derajat), tapi yang pasti dan suka tidak suka kita yang merayakan lebaran adalah salah satu kontributor pemanasan global, bumi yang sedang demam dan batuk diperparah lagi dengan ulah kita yang efeknya akan kembali ke kita.
Kita tahu bahwa energi terbarukan yang ramah lingkungan sedang dikembangkan oleh para ilmuwan, begitu juga daging rekayasa genetika yang tidak berasal dari hewan masih dalam tahap pengembangan, tidak perlu menunggu sampai semuanya bisa didapatkan secara masif. Langkah sederhana dan mulia yang kita bisa lakukan setidaknya adalah: mengurangi konsumsi daging dan energi.
Jika lebaran tahun depan ketupat kita sudah tidak dilengkapi dengan potongan daging, dan tradisi pulang kampung berkurang, maka setidaknya kita sudah menjadi kontributor keselamatan Bumi dan diri kita sendiri dan anak cucu kita.
Zarkasyi Husin
Yang belum bisa sepenuhnya berhenti makan daging 😊
Komentar