MORAL, bentuknya seperti apa ?
Pagi-pagi buta, atau sekitar jam 6 saya main ke rumah teman yang baru saja menyelesaikan master accountingnya.
Penuh perjuangan berat untuk menyelesaikan master katanya. Kuliah disambi dengan bekerja full time di korporasi yang cukup besar itu seperti berada di antara hidup dan mati.
Tugas pekerjaan yang seabrek dan tugas kuliah yang menggunung harus bisa diselesaikan berbarengan. Dibutuhkan komitmen dan endurance tinggi untuk selesai di garis finish: sidang thesis.
Yang menarik untuk dituliskan disini adalah bukan kisah perjuangan dia melewati tantangan kuliah S2 sambil kerja, karena saya juga senasib. Tapi yang menarik adalah hasil penelitian dia tentang: Apakah MORAL menjadi dasar kepatuhan Perusahaan (wajib pajak badan) atau wajib pajak orang pribadi dalam pelaporan pajaknya.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ternyata, "Moral tidak berhubungan positif dengan kepatuhan pelaporan pajak Perusahaan dan orang Pribadi".
Penelitian ini melibatkan ratusan responden, baik itu perusahaan maupun orang pribadi, dan didukung 100 journal internasional sebagai rujukan.
Yang mencengangkan dari penelitian beliau adalah ternyata, "digitalisasi cara pelaporan pajak, serta undang-undang mempunyai hubungan positif dan kuat terhadap kepatuhan pelaporan".
Saya menyimpulkan secara pribadi bahwa, memaksakan kepatuhan perusahaan dan orang pribadi terhadap undang-undang itu ternyata dengan sistem, bukan dengan kampanye "orang bijak taat pajak" atau melalui kajian-kajian religi di majlis-majlis.
Moral, atau orang islam menyebutnya akhlak mungkin tidak perlu lagi dikaji berlebihan di majlis-majlis, tapi hanya perlu dikemas dalam peraturan yang dipaksakan.
Banyak orang yang tidak bermoral/berakhlak di jalan tapi rajin ke kajian.
Banyak orang yang tidak bermoral di perkantoran, sekolahan, bahkan di sekolah agama mungkin, tapi rajin menonton ceramah-ceramah.
Kita memang belum bisa menyimpulkan secara mutlak dan final hasil penelitian, karena sebuah penelitian terbuka untuk diteliti kembali.
Tulisan saya ini mungkin bisa memancing keingintahuan orang untuk meneliti hal-hal yang terkait akhlak, kereligiusan, apakah mempunyai hubungan positif terhadap kepatuhan pada peraturan negara.
Menurut Karen Armstrong bahwa Setiap peradaban mempunyai akar kekerasan dalam kelahirannya. Dalam kesimpulan saya pribadi untuk membentuk perilaku yang baik ternyata dengan aturan yang dipaksakan. Bukan dengan ancaman surga dan neraka. Karena kita masih hidup di dunia, entah kapan kiamatnya.
Salam,
Zarkasyi Husin
Komentar