Kota 1001 Sirine
Entah sudah berapa kali saya mendengar bunyi sirine yang "nguing-nguing" di jalan, mungkin sudah puluhan, ratusan, atau mungkin sudah ribuan, yang pasti saya tidak pernah mencatatnya, kecuali mengumpat, seperti yang anda-anda lakukan juga, mungkin.
Bagaimana tidak jengkel dan menyemburkan umpatan, sirine yang sejatinya hanya boleh dibunyikan pada keadaan darurat dan penting, kini seperti barang murahan yang bisa dibeli dengan harga mahal. Untuk bisa menyalakan sirine, anda tidak perlu menjadi Polisi, supir ambulance, pegawai pemadam kebakaran, pejabat setingkat negara setingkat Bupati, Gubernur, Menteri, atau mungkin President, anda cukup berduit dan merasa penting, maka sirine dalam genggaman.
Kata teman saya, Subandono. Sirine sekarang bukan hanya menjadi alat peringatan akan adanya bahaya, bencana alam, layanan darurat seperti ambulan, branwir, polisi, atau kendaraan yang mesti didahulukan seperti Presiden dan pejabat penting, tapi sekarang sirine pun bisa menjadi alat peringatan atau pamer akan bentuk feodalisme baru, arogansi kemapanan yang membentuk kekuasaan. sudah berapa kali saya, anda harus rela sekedar minggir menepi ketika mendengar sirine yang nguing-nguing jumawa, dan ternyata yang lewat adalah mobil-mobil mewah dengan pengawalan, rombongan motor gede yang mengular dan mendesis lalu menguapkan sinis.
Sejarah mencatat bahwa Indonesia merdeka bukan hanya didasari oleh keinginan kebebasan dari cengkeraman penjajahan, tapi juga sekaligus menghapus paham feodalisme yang sudah mengakar, yang dipraktekkan oleh: tuan dan budak, majikan dan buruh, Pejabat dan rakyat, Senior dan junior, tokoh agama dan jamaahnya. Sudah berapa lama kita menyaksikan dan mempraktekkan jalan menunduk di depan orang-orang yang kita anggap lebih terhormat, lebih kaya, lebih pintar, atau lebih suci dan bijak bestari, sama seperti sirine hari ini yang membuat kita tidak ikhlas untuk menepi.
Saya dan anda berpotensi untuk membeli sirine lalu melaju kencang di tengah kemacetan, memamerkan kemapanan, untuk sekedar melihat decak kagum mereka yang dianggap jelata. tapi sayangnya kita belum kaya seperti mereka.
Salam,
Zarkasyi Husin

Komentar