Guru
Cerpen di Kompas minggu ini menarik sekali untuk dibaca dan dihayati. Judulnya "Guru", ditulis oleh: Putu Wijaya.
Ceritanya tentang seorang Profesor yang mencari guru untuk dirinya. Tujuan tidak lain adalah hanya untuk sekedar menguji apakah ada yang lebih pintar dari dirinya, dan layak menjadi gurunya.
Penyakit jumawa merasa paling pintar, paling bijak, dan paling tahu telah menjangkiti sang Profesor. di matanya semua orang bodoh dan tidak beradab.
Setelah sekian calon guru diseleksi, sang Profesor merasa tidak ada satupun yang layak menjadi gurunya, sampai akhirnya istrinya menydarkanya.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkan seorang guru, jika di matamu semua orang kau anggap bodoh dan tidak beradab" ujar sang istri. "Padahal guru adalah sosok yang tidak mesti lebih pintar dan lebih tahu dari dirimu juga tidak mesti manusia" tambahnya.
"Muridmu sekali-kali bisa menjadi gurumu, anakmu bisa menjadi gurumu, pembantumu bisa menjadi gurumu, bahkan istrimu sewaktu-waktu bisa menjadi gurumu, atau mungkin alam ini bisa menjadi gurumu, bagaimana kamu bisa menjadi murid jika kau datang dengan gelas penuh"
Kata-kata terakhir istrinya layaknya jurus pamungkas yang meruntuhkan benteng kejumawaan sang Profesor, dia duduk bersimpuh, menundukan kepala, dan mendengar dengan seksama setiap kalimat yang disampaikan istrinya.
Sang Profesor merasa baru kali ini dia merasa seperti murid, dia melihat sosok Lukmanul Hakim pada istrinya, kata-katanya penuh hikmah yang dia bisa jadikan pelajaran dan menyadarkannya bahwa tidak semua guru itu harus lebih tahu, lebih pintar dan lebih bijak.
Salam
Zarkasyi Husin

Komentar
Keren pak Zark, ini sindiran buat siapa saja yg merasa pinter alias sombong.
Padahal dari mahluk lain kita bisa belajar banyak apalagi sesama manusia.
Saya sukaak blog bapak 😀