Standar Komunikasi Nasional
Satu minggu lalu saya pasang iklan lowongan kerja posisi marketing eksekutif untuk wilayah Kalsel dan Kaltim.
Selain memasukan email sebagai alamat tujuan pengiriman lamaran, saya juga sengaja memasukan no WA sebagai media komunikasi, siapa tahu ada yang mau tanya-tanya dulu atau sekalian kirim lamaran via WA, karena kita tahu sekarang WA juga sudah menjadi media pengiriman data dan document yang cepat, efisien dan efektif.
Saya tidak menyangka, ternyata banyak yang kirim pesan ke saya via WA menanyakan perihal lowongan tersebut. Tapi yang saya heran, hampir 99% pertanyaan yang masuk ke saya sangat-sangat singkat, bahkan bisa dibilang super pendek, lucu-lucu, dan bikin gemas.
Ada yang bertanya, "ada loker kah ?", "masih adakah loker", "butuh karyawan kah", "saya tertarik loker bapak" dan pertanyaan-pertanyaan pendek lainya.
Saya bertanya dalam hati, apakah seperti ini gaya komunikasi orang sekarang, menanyakan sesuatu yang penting tanpa ada prolog atau mukadimah, padahal ini untuk posisi marketing yang notabene, salah satu penilaianya cara kandidatnya berkomunikasi.
Kita mungkin sudah sama-sama tahu, bahwa dunia Marketing sudah banyak mengalami perkembangan dan transformasi.
Dulu kita mengenal era 1.0 dimana perusahaan dan tenaga marketing fokus pada penciptaan produk-produk terbaik atau dengan istilah product centric, lalu berkembang ke era 2.0 yang menitik beratkan pada customer oriented, selanjutnya berkembang ke 3.0 dimana marketing harus bisa mempelajari kebutuhan-kebutuhan customer yang tidak nampak, istilah kerennya adalah human centric, dan sekarang kita sudah pada era 4.0, dari cara tradisional ke digital (moving from traditional to digital). Istilah sekarang yang kita tahu adalah digital marketing
Kita tahu bahwa cara-cara tradisional marketing perlahan-lahan sudah mulai ditinggalkan, walaupun pada customer B2B cara-cara lama masih lebih efektif, tapi apakah ketika dunia sudah bergerak ke arah digital, lalu cara-cara komunikasi yang baik harus juga ditinggalkan.
Kita sadar bahwa efek perkembangan teknologi melahirkan kebiasaan-kebiasan baru, norma-norma baru yang dulu mungkin dianggap tidak lazim dan sekarang dianggap biasa dan normal (memenuhi standar kesopanan). Tapi sejatinya Manusia adalah makhluk sosial, dimana mudah terafeksi dengan cara komunikasi yang baik.
Saya, dan mungkin teman-teman generasi X, dan Y lainya sadar sebagai makhluk Digital immigrant, bukan Native Digital, tapi apakah pada Era digital ini semua yang baik dari cara-cara lama harus juga tercerabut, khususnya komunikasi, lalu apakah kita perlu menciptakan Standar Komunikasi Nasional yang baik ?.
Tabik
Zarkasyi

Komentar