Berharap Positif



"Sometimes people don't want to hear the truth because they don't want their illusions destroyed" - Friedrich Nietzsche


Saya tidak sedang berusaha mengajak semua orang untuk setuju, tapi menurut saya kutipan di atas sepertinya cocok dan related dengan judul tulisan ini. Saya tidak perlu menerjemahkan kutipan di atas, karena kalimatnya cukup mudah untuk dipahami. 


Setiap orang selalu berharap atau menginginkan hal yang positif (baik) dalam hidupnya, sekalipun yang dikerjakannya sesuatu yang negatif (tidak baik).


Ketika seseorang sekolah sampai jenjang S1, maka dia berharap masa depannya akan lebih baik, misalnya mendapatkan pekerjaan bagus dan bergaji besar. Begitu juga ketika seseorang rajin bekerja mencari nafkah, maka dia berharap bisa kaya (sejahtera dan berkecukupan).

Dan ketika seseorang melakukan hal yang negatif pun yang diharapkan adalah hal yang positif. Misalnya koruptor/maling, pastinya dia berharap harta hasil korupsinya bisa berguna buat keluarganya.


Dalam kehidupan, kita cukup sering mendapatkan hasil akhir yang tidak baik, walaupun kita sudah melakukan proses yang terbaik, bahkan sarat dengan doa. Kata orang bijak yang belum tentu bijak, semua itu ada hikmahnya, ada pelajaran yang kita bisa ambil dan menjadi bahan evaluasi. Tapi pertanyaanya apakah sesuatu dianggap baik harus atau wajib berhubungan positif dengan hasil akhir. 


Banyak orang bilang, "laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik untuk jadi pasangannya, atau sebaliknya". Tapi bagaimana jika ternyata kita mendapatkan fakta ada laki-laki baik mendapatkan pasangan yang dalam pandangan kita tidak baik. Ada yang bilang "itu ujian", mereka seolah tidak berani melihat dan mengakui sebuah fakta (truth), mungkin karena sudah terlanjur mengimani sebuah persepsi yang bersandar pada kitab suci.


Alinea di atas mengingatkan saya pada waktu membahas jurnal ilmiah pada mata kuliah metode penelitian. Seorang Mahasiswa bertanya heran setengah protest "kenapa kesimpulan suatu jurnal ilmiah ini tidak berhubungan positif dengan topik analisis yang diyakini menghasilkan hubungan yang baik" ?.


"Sebuah karya ilmiah itu menyajikan fakta berbasis data" jawab dosen, "dan karya ilmiah itu bukan opini penelitinya" tambah beliau. "Jika kesimpulanya tidak sama dengan keinginan penelitinya atau yang membacanya, maka itu fakta yang harus diterima" dan terbuka untuk diteliti kembali.


Beliau kemudian menjelaskan dengan gamblang bahwa, ada dua kemungkinan kenapa kesimpulan sebuah jurnal ilmiah berbanding terbalik dari kesimpulan yang semestinya.


Pertama, bisa jadi metode penelitian yang digunakan salah, atau juga alat analisanya salah. Saya sedikit menambahkan, struktur data yang salah pun bisa melahirkan kesimpulan yang salah, apalagi jika ternyata datanya memang tidak terbarukan (uptodate).


Alinea-alinea di atas mungkin bisa menambah perspektif kita dalam menilai atau melihat satu phenomena yang tidak ideal atau semestinya di mata kita. 


Jika hari ini kita melihat rumah-rumah ibadah, majelis kajian, dan halaqah penuh, tapi di jalan kita menemukan perilaku yang tidak berhubungan positif, maka ada 2 (dua) kemungkinan:


  • Cara mengajarnya salah

  • Alat mengajarnya salah


Atau mungkin juga kita sudah menjadi sekumpulan data yang rusak ?


Salam

Zarkasyi Husin


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk