Para Pecandu
Candu atau Opium, nama ilmiahnya adalah Papaver, getah berwarna coklat kekuning-kuningan yang berasal dari buah papaver somniferum yang belum matang. Setelah diekstraksi, candu berubah menjadi morfin/heroin. Dalam dunia kedokteran zat ini biasanya digunakan untuk meredakan bahkan menghilangkan rasa sakit pasca operasi. Untuk menghilangkan rasa sakit ditinggal pacar mungkin bisa juga.
Candu juga bukan saja dapat menghilangkan rasa sakit pemakainya, tapi juga memicu imaji khayali, bahasa anak muda tahun 80-90an dibilang "ngefly" dan juga "high". Efek paling bahaya yang ditimbulkan candu selanjutnya adalah ketagihan, jika meminjam bahasa iklan komersial, para pemakai selalu "mau lagi, lagi, dan lagi". pada fase ini para pemakai sudah di tingkatan "kecanduan".
Pada perkembangan selanjutnya, istilah "candu" bukan saja berasal dari papaver somniferum, tapi sesuatu baik itu zat, makanan, atau kegiatan yang menimbulkan efek "ketagihan" bisa dibilang "candu", dan orang yang sering memakainya, memakannya atau melakukannya bisa dibilang "kecanduan".
Misalnya di Indonesia, banyak orang kecanduan rokok, kecanduan bakso, pentol, pizza. Ada juga orang kecanduan mancing, anak-anak kecanduan main game, orang dewasa kecanduan gibahin presiden, nonton bola, film porno dan selanjutnya kecanduan sex, para ibu-ibu kecanduan nonton aksi Bunda Corla, kecanduan medsos, dan ketika masuk tahap akut akan kecanduan "like & comments", eit, jangan lupa ada juga lho yang kecanduan bansos/sumbangan.
Apapun nama kecanduanya, segala bentuk kecanduan itu berbahaya, kita akan sangat susah lepas dari jeratan kenikmatan sesaat candu, para pecandu biasanya akan mendramatisir kesulitan untuk sembuh.
Seorang teman mantan pecandu zat narkotika pernah cerita sama saya, bahwa aksi menjedotkan kepala, atau menyakiti diri para pecandu ketika sakaw adalah bohong belaka, upaya itu tidak lain meminta keluarganya untuk memperhatikan dan memenuhi kebutuhan nya. Tidak tertutup kemungkinan para pecandu bansos/sumbangan juga melakukan hal yang sama ketika sakaw, atau memang ada orang-orang yang menyulap bansos menjadi candu, lalu mereka menikmati efek ketagihan dari pecandu bansos dan mengambil keuntungan.
Sejarah mencatat candu dikomodifikasi, dijual dan menghasilkan keuntungan dari penderitaan para pemakainya, menciptakan efek ketagihan dan ketergantungan. Bisa jadi kecanduan bansos adalah hal yang dikonstruksi oleh orang-orang culas, tidak heran banyak orang atau negara jauh disana yang kecanduan bansos/sumbangan dan selanjutnya ketergantungan.
Secara tidak sadar, kita semua banyak yang sudah menjadi pecandu, baik dalam tingkatan stadium awal atau akut. Kita para pecandu bisa lepas dari jerat kenikmatan sesaat asal mau berusaha. Tentunya dengan menyibukan diri kita dengan kegiatan-kegiatan positif, dan melakukan pola hidup sehat.
Tabiik
Zarkasyi Husin.

Komentar