Tidak ada yang berubah
Di samping perumahan saya ada mushola yang suara speakernya suka nyebrang tanpa permisi, kadang terdengar merdu mengasyikan, walaupun sering terdengar bising mengganggu.
Seperti hari ini, Suara itu terdengar kembali, gaduh, sedikit mengganggu. ibu-ibu melantunkan sholawat cukup kencang, riuh. rupanya ada pengajian mingguan. ada lantunan sholawat yang tidak asing di telinga saya, shalawat itu seperti mesin waktu yang sepersekian detik melempar saya ke masa kecil. melihat ibu-ibu di kampung saya berangkat mengaji setiap sabtu pagi, dan mendengar ritual bacaanya. ternyata ibu-ibu di kampung sebelah juga melakukan hal yang sama setiap Sabtu.
Seperti ibu-ibu di kampung saya dulu, mereka datang berbondong-bondong ke Mushola, membentuk setengah lingkaran, ada sedikit ruang kosong di depan, biasanya diisi dengan aneka kue basah yang menambah keistimewaan buat yang duduk di depan.
Susunan bacaan pengajian teratur, biasanya sholawatan menjadi pembuka, dilantunkan sambil menunggu jamaah yang masih di rumah datang, jika dirasa cukup, acara segera dimulai dengan bacaan barzanji, mereka piawai membacakanya, mungkin karena sedari kecil sudah biasa mendengar. bacaan pamungkas biasanya asma'ul husna, dibaca serempak agar terdengar syiar dan berharap Tuhan senang namanya disebut-sebut, "yoo kebangetan, kalau sampai Tuhan tidak kasih pahala", gumam mereka penuh harap.
Tausiah menjelang akhir pengajian tidak pernah ketinggalan, kecuali ustadzahnya yang lulusan pesantren modern itu sedang ada acara atau urusan keluarga. bahasan tausiah biasanya tentang: do'a masuk dan keluar toilet, baca do'a ketika bercermin dan mendengar petir, cara wudhu yang benar, doa ketika berhubungan suami istri, tentu cara mandi junub yang benar dibahas juga.
Bahasan tausiah tersebut menjadi favorit ustadzah yang mengajar, dan kesenangan ibu-ibu pengajian. Tidak jarang mereka cekikikan bahagia membahas doa berhubungan suami istri dan mandi junub. Seperti ada kejenuhan rutinitas yang lepas.
"Pengajian kok yang dibahas itu terus, tidak pernah berubah, islam sudah ada 1,400 tahun lebih, apa tidak ada kajian yang lebih berbobot, high educated" begitu komentar orang berilmu yang nampak bijak.
Komentar tidak berhenti sampai disitu, hujatan sebagai ahli bid'ah dari orang-orang yang merasa paling murni akidahnya tak pernah berhenti dirajamkan tanpa belas kesadaran. Mereka mendaku sebagai orang-orang yang paling mengerti agama, mengutip ayat dan hadits semacam hobi gila, padahal kebanyakan mereka tidak pernah belajar agama secara khusus (nyantren).
Begitulah perbedaan, karena agama dan cara memahaminya bukan monopoli satu kaum, apalagi mempraktekannya, seperti saya juga, yang lelah bertanya. “apa tidak membosankan mengikuti pengajian seperti itu, tidak ada yang berubah”
Nampaknya mereka dan saya tidak sadar bahwa ternyata, buat ibu-ibu, pengajian itu semacam melting pot, tempat dimana mereka sedikit beristirahat, melepas kejenuhan dan lelah. "Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan susah payah, lalu buat apa memeras otak memahami yang sulit dan menambah kesusahan".
Mereka (ibu-ibu) melebur dalam gerak ritmik tanpa musik, mengisi hidup dengan sukacita bersua, bercengkrama, makan, berdo’a, dan mungkin malamnya bercinta. kenapa tidak, bukankah itu gambaran kegiatan di syurga yang kita idamkan ?!.
Salam
Zarkasyi Husin
Komentar