Monday morning Quarterback
Di dalam satu Negara, organisasi, perusahaan, atau dalam skala yang paling kecil, teamwork misalnya, selalu ada orang-orang yang selalu suka mengkritik, baik itu kritik membangun, ataupun tidak. Tidak masalah, karena memang undang-undang dan sistem demokrasi menjamin hak dan memperbolehkan kita untuk mengkritik. masalahnya adalah, kritik yang menggebu-gebu lahir belakangan itu sering dirajamkan dan sarat dengan theory-theory; "harusnya begini, harus begitu, saya bilang juga apa, theory anda tidak menyelesaikan masalah, coba ikuti theory saya"
Di Amerika orang-orang seperti itu dikenal dengan istilah atau phrase "Monday morning quarterback" . a person who criticizes the actions or decisions of others after the fact, using hindsight to assess situations and specify alternative solutions.
Artinya adalah: seseorang yang mengkritik keputusan dan tindakan orang lain setelah faktanya ada, dan menggunakan sesuatu yang sudah terjadi untuk menilai keadaan sekarang, lalu menentukan solusi-solusi pilihan (mereka).
Orang-orang seperti di atas biasanya paling gencar mengkritik dengan narasi yang pedas (nyinyir). jika kritik disampaikan sebelum keputusan diketok palu mungkin masih bisa dimaklumi, tapi orang tersebut biasanya diam seribu bahasa dan cenderung tidak memberikan ide ketika pembahasan penyelesaian satu masalah sedang dilakukan.
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang suka mengkritik kebijakan pemerintah, misalnya dalam hal penanganan penanggulangan Covid19, dan juga yang baru-baru ini terjadi dimana pemerintah seperti kena prank bantuan 2 Triliun, apakah mereka masuk dalam definisi monday morning quarterback ?. Pendapat saya pribadi mengatakan, tidak. Kenapa ?.
Karena Orang-orang yang biasanya mengkritik pemerintah dengan tajam, pedas, dan cenderung nyinyir adalah orang-orang di luar pemerintahan, yang tidak punya hak memberikan ide, dan bahkan tidak ada ketika rapat sedang dilaksanakan, jadi wajar kalau mereka tidak masuk kategori monday morning quarterback. Syah-syah saja mereka menghamburkan kritik ke pemerintah dengan seabrek theory lalu kemudian menguap. Bukan tidak didengar, dibaca maupun ditampung kritik-kritik tersebut, tapi pemerintah sendiri juga punya strategi tersendiri bagaimana mengatasi masalah-masalah besar negara dan super komplek.
Rasanya kita membuang-buang tenaga dan waktu untuk satu perkara dimana sudah ada orang, kumpulan, badan ahli yang menanganinya. Percayalah pada pemerintah dan sistem yang sudah dibangun puluhan tahun. Satu theory mengatasi masalah sosial pasti mengalami trial dan error, bahkan theory eksak tidak benar-benar eksak. Bukankah kita tahu bahwa theory Einstein dan Hawking tentang Black Hole baru bisa dibuktikan sekarang dan dipercayai. Bisa jadi theory-theory penanganan masalah kemanusiaan Indonesia baru dirasakan dampak positifnya di masa yang akan datang.
Jika hari ini pemerintah dan sistemnya dicurigai sebagai monster dan punya keinginan menyengsarakan rakyat, tentunya mereka mempunyai kuasa mematikan listrik, jaringan komunikasi; Air (PDAM); menutup semua jalur transportasi; membiarkan pasar komoditi crash; dan membuat harga kebutuhan pokok melambung; keamanan ditelantarkan sehingga terjadi chaos. Tapi nyatanya hari ini sebagian besar kita masih bisa makan; walaupun sebagian kecil dari kita susah payah mencari makan; faktanya listrik dan air di rumah kita masih menyala dan mengalir walaupun kita harus bayar; dan keadaan sekarang cukup aman, tidak ada huru-hara.
Percayalah pada pemerintahan dan sistemnya, pasti mereka mau melakukan yang terbaik buat rakyatnya. Bukankah kita sampai hari ini masih bertahan karena kita percaya Tuhan itu baik dan memberikan yang terbaik, padahal kita lihat nyata dari zaman sejarah sampai sekarang begitu banyak pembunuhan, wabah, perang, bencana alam, dan berbagai musibah lainya, apakah kita mau mencurigai Tuhan itu jahat, membiarkan hambanya tersiksa mati kelaparan, penyakitan, terkubur dan tenggelam ? Tentu tidak.
Untuk kebaikan yang tidak tampak saja kita masih bisa percaya dan imani, lalu kenapa kebaikan yang kasat mata dan ada di depan kita masih tidak dipercayai. Sungguh Terlalu.
Masih mau jadi tim Monday morning quarterback ? Pilihan ada di logika dan hati anda.
Wallahu'alam
Zarkasyi Husin

Komentar