Hati yang gembira




Kata orang: hati yang gembira adalah imun terbaik,  tapi maaf,  jangan tanya saya siapa orangnya yang ngomong seperti itu, karena saya sendiri tidak tahu yang mana orangnya, tapi setidaknya frasa itu mengingatkan saya pada sebuah buku yang pernah saya baca, dan dua phenomena yang saya alami sendiri. 


Dari sekian bukunya, seperti: Tipping Point, What the Dog Saw, dan Blink, menurut saya, Outlier adalah buku Malcolm Gladwel yang paling menarik, membahas tentang hal-hal yang tidak wajar secara common sense, atau definisi secara statistiknya adalah: sekumpulan data yang menyimpang dari data seharusnya; menulis banyak fenomena yang cukup menarik di bukunya. Salah satu fenomena yang dia temukan adalah  dimana Malcolm hampir tidak menemukan orang yang mati muda karena serangan jantung pada satu komunitas orang Italia, tepatnya daerah Manhattan's Little Italy, padahal mereka adalah komunitas yang tidak terlalu rajin berolahraga, dan kebiasaan makannya sangat-sangat berlemak, mereka paling suka memasak Risotto dengan campuran lemak babi, dan juga makan makanan yang manis-manis yang tentu saja tidak cukup baik buat kesehatan, resiko terkena salah satu penyakit kardiovaskular seperti jantung koroner akan sangat tinggi, tapi herannya angka itu sangat kecil bahkan boleh dibilang nol secara statistik.


Bahkan dalam penelitian lebih dalamnya Malcolm Gladwel dan timnya tidak menemukan kebiasaan positif yang bisa menjadi justifikasi kenapa rata-rata mereka tidak mempunyai riwayat penyakit kardiovaskular akut. Karena saking penasarannya, Malcolm sampai harus research ke italia langsung, menyusuri jejak moyang komunitas tersebut yang tinggal di daerah Roseto, yang jaraknya 100 miles dari Roma. Malcolm dan Team tidak menemukan kebiasaan penduduk Roseto yang jauh lebih baik dari saudara-saudara mereka yang migrasi ke Amerika, memasak dengan lemak babi, dan makan makanan manis kebiasaan yang tetap bertahan sampai sekarang. Ketika sudah hampir menyerah, mereka menemukan kebiasaan penduduk Roseto yang unik, mereka suka saling mengunjungi dengan berbagi kue, membunuh waktu dengan berkumpul dan ngobrol sambil minum teh dan kadang wine. di Indonesia mungkin kebiasaan tersebut bisa dibilang bentuk Silaturahmi, bisa mendapatkan kebahagiaan, kesehatan dan umur panjang buat yang meyakininya.


Fenomena yang saya alami sendiri juga cukup lumayan aneh, saya mempunyai komunitas alumni yang saban bulan kumpul gak pake kebo, katanya acara pengajian, tapi 98% aktivitasnya berkelakar, jahilin teman, mancing, bercanda ala jaman sekolah, yang harus melepas semua atribut sosial. Jangan ditanya pake masker apa tidak, sejak covid diumumkan, kita tidak berhenti kumpul dengan prokes yang sangat-sangat minim, tapi herannya, sampai sekarang Alhamdulillah tak satupun dari kami yang positif covid, mungkinkah karena hati kami yang gembira terus, karena bukan cuma sering berkumpul tapi juga setiap hari bercanda lewat WA group, sehingga membentuk imun yang kuat, bisa benar, bisa juga tidak salah.


Fenomena kedua yang saya alami adalah kantor tempat bekerja, agak kedengaran berlebihan jika saya bilang kantor ini tempat kita pindah main, suasananya penuh canda walaupun tetap serius bekerja, bully yang sebetulnya tujuan untuk bercanda itu sudah biasa, selama pandemi sudah beberapa orang yang berada di lantai 1, 2 dan 4 yang positif covid, sementara kami yang berada di lantai 3 sampai sekarang tidak satupun yang positif covid, test antigen pernah 2 kali dilakukan, belum lagi yang sering keluar kota, sudah tidak terhitung hidungnya dicolok, tapi Alhamdulillah masih negatif Covid. 


Mungkinkah kami outlier, sekumpulan data yang menyimpang dari data seharusnya, atau karena hati kami dilumuri dengan vaksin gembira, sehingga kami kebal dengan serangan covid, atau karena kebetulan saja ? 


Hanya Tuhan yang tahu.


Salam

Zarkasyi Husin


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#berduasaja #menuabersama

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Anak Punk