Postingan

Lebih dari selamanya

“Kamu akan menikah lagi tidak kalau aku mati duluan?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Rifa, ringan seperti buih, dibungkus nada setengah bercanda yang seharusnya tak perlu diambil hati. Namun, di ruang tamu yang hangat itu, Salim menjawabnya dengan ketegasan yang melampaui logika. “Tidak lah,” tukasnya, disusul gumaman kecil, “Ngomong apa sih kamu.” Bagi Salim, kalimat itu bukan sekadar obrolan pengantar tidur. Ia adalah segel. Dalam film Lebih dari Selamanya, Donny Alamsyah (Salim) dan Shareefa Daanish (Rifa) tidak sekadar beradu peran; mereka memotret sebuah arsitektur rumah tangga yang ideal namun rapuh di hadapan takdir.  Salim adalah prototipe ayah yang tangguh, sementara Rifa adalah tiang penyangga yang tetap kokoh saat fondasi ekonomi dan psikologi suaminya mulai retak.  Mereka adalah dua kutub yang saling mengunci dalam janji: mencintai sampai maut, dan bertemu kembali di surga. Namun, hidup punya selera humor yang getir. Gelembung Kenangan yang Menyesak...

Anak Punk

Gambar
Seorang anak muda punk masuk cafe dan memesan kopi. Dia duduk di pojok dekat bar counter, beberapa pengunjung cafe memperhatikan potongan rambut Mohawknya yang unik berwarna-warni. Beberapa pengunjung lainya ikut menoleh sebentar, lalu kembali focus ngobrol kembali dengan temanya, kecuali satu orang tua yang duduk tidak jauh dari anak punk tersebut. Orang tua itu terus memperhatikan anak punk tersebut, sesekali dia manggut-manggut sambil menahan senyum yang hampir meledak menjadi ketawa. Merasa risih terus diperhatikan, anak punk tersebut menghampiri bapak tua dan bertanya. “Bapak tua, kenapa kau terus memperhatikan aku, ada yang aneh kah pada diri saya” “Aah tidak anak muda, cuma terlintas dalam pikiran jangan-jangan kamu anak saya” jawab bapak tua. “Bagaimana bisa, bapak tua” tanya anak punk tersebut dengan penasaran “Waktu muda aku juga anak punk, aku lebih nakal dan slebor dari kamu, pernah satu malam saking mabuknya, aku sampai memperkosa seekor burung merak”.

#berduasaja #menuabersama

Gambar
Apa yang anda lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu ? Sebagian dari kita mungkin mengisinya dengan bersih-bersih rumah, olahraga, kondangan, arisan keluarga, atau sibuk dengan buka-buka media sosial dan WA. Yang terakhir hampir semua orang yang punya gawai melakukannya, termasuk saya. Buat saya orang kantoran dan gajian yang sibuk dari Senin-Jumat, hari Sabtu dan Minggu adalah golden day, hari-hari dimana rasanya rugi kalau saya tidak lewati dengan kegiatan bersama istri, gowes misalnya, olahraga yang kata teman saya lebih banyak sisi cuci matanya, saya mengkonfirmasi “ya”, Walaupun tidak sepenuhnya benar. Melihat pemandangan hijau, melirik yang masih kinyis-kinyis adalah salah duanya, efeknya, saya nampak lebih muda dari bapak saya, dan sedikit lebih tua dari adik saya.  Healing jalan-jalan keluar kota adalah salah satu kegiatan yang juga kami suka lakukan di akhir pekan, misalnya hari ini. Kami on the Way to Jogja, rencananya Minggu pagi akan gowes bersama keliling kota dan Kerato...

Dexter the Vigilante: Menguak Kedalaman Naluri Gelap Manusia

Gambar
Dalam kegelapan nurani yang paling pekat, di sanalah Dexter bersemayam. Bukan sekadar kisah tentang pembunuh berantai, melainkan sebuah eksplorasi mendalam tentang sisi esoterik kemanusiaan—tentang bisikan-bisikan primordial yang mendiami setiap sudut jiwa, naluri binatang yang senantiasa mengintai, haus akan pembalasan, dahaga akan keadilan yang berlumur darah. Dexter Morgan bukanlah psikopat biasa. Ia adalah anomali, sebuah paradoks berjalan yang mengadopsi kode etik personalnya sendiri, sebuah sistem moralitas yang terukir di atas pilar-pilar kejahatan dan pembalasan. Ia adalah arsitek keadilan versi jalanan, eksekutor bagi mereka yang luput dari jerat hukum. Dari pemuka agama yang merenggut kesucian, pengedar narkotika yang menghancurkan kehidupan, pedofil yang merenggut masa depan, hingga politikus busuk yang mengkhianati amanah—semua adalah mangsa bagi "Dark Passenger"-nya.  Dexter adalah bayangan cermin dari hasrat tersembunyi kita, representasi dari keinginan untuk me...

Paus Matematikawan

Gambar
Mungkin ada yang aware bahwa Paus yang baru adalah ahli Matematik. Sebagai seorang matematikawan pasti dia mengerti sekali soal Sinus dan Cosinus. Kemampuan dia dalam bidang matematik menjadi bahan lelucon atau humor cerdas. Kalau kata Sinus dan Cosinus mampu membuat anda berimajinasi lucu, maka anda cukup cerdas, dan berterima kasih pada Arthur Koestler, seorang penulis buku “The Act of Creation” yang mempopulerkan bisosiasi. seni kreativitas dan kemampuan menggabungkan dua konsep berbeda yang tidak terkait menjadi joke logis atau satire. orang-orang yang punya kemampuan bisosiasi biasanya kerja di bidang kreatifitas, misalnya konsep periklanan. Mereka juga bisa menjelaskan hal-hal yang rumit dengan bahasa sederhana. Kalau anda senang dengan bisosiasi maka anda bisa mengimajinasikan kata Sinus dan Cosinus dalam ranah dunia dan akhirat. Imajinasi saya tentang meme terlampir adalah: “Every Single Sin had a Cos has to be Paid”  Selamat berimajinasi Salam dari sudut Kota Ba li ZH 😁

Selayaknya paduan Suara

Gambar
  Dalam paduan suara, setiap suara itu berarti. Dari soprano yang melengking ke langit, atau bass yang terdengar membumi. Setiap penyanyi berkontribusi dengan suaranya yang unik untuk menciptakan harmoni yang terpadu. keseimbangan yang luar biasa secara individu dan kesatuan ini menawarkan analogi kerja tim yang kuat dalam organisasi. Sama seperti paduan suara yang mencapai keharmonisan melalui kolaborasi, komunikasi, dan tujuan bersama, demikian pula sebuah tim dapat mencapai kesuksesan dengan menganut prinsip-prinsip ini. Kesuksesan bukanlah tentang menonjol sebagai individu, tapi tentang memadukan kekuatan kita dengan orang lain untuk menciptakan hal yang lebih baik. Setiap suara berarti,  Walaupun kadang kita suka menemukan pribadi yang merasa paling hebat, berdiri dan bersuara lebih tinggi agar kelihatan, persis seperti Heineken . 🫢 Mendengarkan sama pentingnya dengan berkontribusi. Selamat malam Nusantara 😁

Supardi, BUMAS & BUMM

Gambar
Entah, siapa dan apa dulu yang saya mesti duluan bahas dalam tulisan ini, apakah tentang Supardi, BUMAS atau BUMM, tapi ketiganya berkaitan.  Pak. Dhe Pardi, begitu dia biasa dipanggil oleh tetangganya, teman-teman DKM, sekolah, komunitasnya, bahkan teman-teman sekolah istrinya. Saya pun ikut memanggilnya Pak. Dhe, bukan ikut-ikutan, itu satu upaya yang tidak bisa dibilang basa-basi, tapi lebih kepada panggilan penghormatan karena beliau lebih tua dari saya yang terkonfirmasi karena tepat tahun 2020 beliau pensiun di usia 58 tahun. Supardi adalah suami dari teman sekolah istri saya, beliau adalah pensiunan dari departemen pertanian. Laku hidup sebagai penyuluh selama bertahun-bertahun dia ceritakan dengan dengan semangat kepada saya. Ada pancaran kepuasan dan kebahagiaan di matanya, cerita tentang apa yang dia lakukan pada masa pensiun sekarang adalah adalah laku pamungkas, beliau aktif di Masjid. it might be called the ultimate of life, baik secara spiritual maupun humanis. Cerit...