Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2022

Kota 1001 Sirine

Gambar
Entah sudah berapa kali saya mendengar bunyi sirine yang "nguing-nguing" di jalan, mungkin sudah puluhan, ratusan, atau mungkin sudah ribuan, yang pasti saya tidak pernah mencatatnya, kecuali mengumpat, seperti yang anda-anda lakukan juga, mungkin.  Bagaimana tidak jengkel dan menyemburkan umpatan,  sirine yang sejatinya hanya boleh dibunyikan pada keadaan darurat dan penting, kini seperti barang murahan yang bisa dibeli dengan harga mahal. Untuk bisa menyalakan sirine, anda tidak perlu menjadi Polisi,  supir  ambulance, pegawai pemadam kebakaran, pejabat setingkat negara setingkat Bupati, Gubernur, Menteri, atau mungkin President, anda cukup berduit dan merasa penting, maka sirine dalam genggaman.  Kata teman saya, Subandono. Sirine sekarang bukan hanya menjadi alat peringatan akan adanya bahaya, bencana alam, layanan  darurat seperti ambulan, branwir, polisi, atau kendaraan yang mesti didahulukan seperti Presiden dan pejabat penting, tapi sekarang sirine ...

Argentina atau Francis ?

Gambar
Kalau saya ditanya siapa yang akan jadi juara dunia 2022, maka saya akan jawab, saya maunya Argentina. Kenapa Argentina, karena ada Messi disana dan saya suka Dia, pemain yang sarat dengan prestasi tapi tetap humble. Lalu kenapa saya saya tidak memilih Francis, karena ada Mbappe disana. Pemain muda cemerlang, agile, potensial, tapi rada sombong, dan suka ghosting, Real Madrid pernah jadi korbannya. Penggemar sepak bola memang suka begitu, tidak objektif, cenderung subjektif, percis kaya HR dan User.  Padahal sadar Francis dalam performa terbaiknya, tapi masih berat ke Argentina dan berharap mereka yang juara. Penggemar sepak bola, HR & user ternyata masih manusia, belum menjelma menjadi recruiter yang mengolah data dan rasa dengan bahasa algoritma. Jadi buat para job seeker, jangan over pede dengan gelar akademik dan serenceng prestasi, karena bisa saja HR dan User malah lebih berat yang gelar akademiknya dan prestasinya biasa saja tapi attitude nya memesona. Have a nice weeken...

Guru

Gambar
Cerpen di Kompas minggu ini menarik sekali untuk dibaca dan dihayati. Judulnya "Guru", ditulis oleh: Putu Wijaya. Ceritanya tentang seorang Profesor yang mencari guru untuk dirinya. Tujuan tidak lain adalah hanya untuk sekedar menguji apakah ada yang lebih pintar dari dirinya, dan layak menjadi gurunya.  Penyakit jumawa merasa paling pintar, paling bijak, dan paling tahu telah menjangkiti sang Profesor. di matanya semua orang bodoh dan tidak beradab.  Setelah sekian calon guru diseleksi, sang Profesor merasa tidak ada satupun yang layak menjadi gurunya, sampai akhirnya istrinya menydarkanya. "Bagaimana kamu bisa mendapatkan seorang guru, jika di matamu semua orang kau anggap bodoh dan tidak beradab" ujar sang istri. "Padahal guru adalah sosok yang tidak mesti lebih pintar dan lebih tahu dari dirimu juga tidak mesti manusia" tambahnya.  "Muridmu sekali-kali bisa menjadi gurumu, anakmu bisa menjadi gurumu, pembantumu bisa menjadi gurumu, bahkan istrimu ...